January 13, 2010

Malas

Malas

Malas, kata yang semua orang tahu akan maknanya

Malas, suatu kondisi saat orang merasa ingin terus dalam kenyamanan

Malas, dimana kata ini di kategorikan sebagai kata sifat yang negatif

Malas, menjadi budak daging yang bernama hati

Malas, menunda untuk melakukan sesuatu yang lebih berarti

Sepotong puisi (mungkin) menggambarkan arti dari kata malas

Siapa yang tidak mengetahui dengan arti malas dan maknanya, saat orang ingin terus dalam kondisi yang berbahaya yaitu kenyamanan dan kata ini menjadi kata sifat yang negatif dimana para guru pun saat kita duduk atau masih di bangku sekolah mengumandangkan untuk perang dengan sifat yang bernama malas. Suatu daging yang bernama hati berganti nama yaitu perasaan, dimana rasa malas ini tumbuh subur di hati yang nyaman. Dan menjadi akhir yang mengenaskan karena menunda untuk melakukan sesuatu yang lebih berarti.

January 12, 2010

Tulisan dan tulisan

Tulisan dan tulisan

Baru sedikit terbesit dengan bahasa yang di gunakan kebanyakan orang dalam penulisan. Dari ilmu yang penulis ketahui, ”pergunakanlah bahasa yang mudah di mengerti semua orang, pergunakanlah bahasa yang sederhana, jangan di tulis jika kau tidak tahu”

Ternyata cukup menyenangkan jika pembaca bisa mengerti apa yang kita tulis, apa yang kita tuangakan dari pikiran kita tapi terkadang ada beberapa hal yang tidak bisa di tuangkan secara langsung, demi ke-elegan-an tulisan itu sendiri, penulis rasa.ya itulah seni dari menulis.

Coba kita lihat Sartre, gaya bahasa yang dia gunakan tidak semua orang bisa mencernanya dengan baik. Penulis rasa itu salah satu cara untuk menjaga ke-elegan-an dari suatu pikiran. Toh muskipun susah untuk dimengerti Sartre di nobatkan sebagai Sang Eksistensialist.

Pengarang dari Perancis ini telah membuat penulis telah lama jatuh hati terhadap dunia tulis menulis, dimana pikirannya bisa berubah menjadi simbol-simbol yang di tafsirkan secara khas ala Sartre dalam sebuah cerita.

Mungkin dia bukan orang yang patut dicontoh dalam kehidupan sehari-harinya tapi banyak hal yang dia torehkan dengan tulisan dimana seseorang merupakan sesuatu yang kokoh jika dia berpendirian kuat demi ke-idealisme-annya.

Sarte mungkin sudah banyak yang mengetahui lebih dari pada penulis mengenai dirinya. Seorang pujangga besar dalam menjunjung tinggi pemikiran-pemikiran liar.

Jean-Paul Sartre

January 11, 2010

Trilogi Transportasi

Trilogi Transportasi

Angkot Kalapa-Sukajadi

Perjalanan pulang kampung seperti layaknya mudik lebaran terasa saat pergantian tahun. Libur di kebanyakan tempat selama 4 hari membuat hati ingin kembali ke Surabaya. Membeli tiket kereta api di kala mendungnya Bandung tidak membuat semangat luntur untuk pulang kampung. Perjalanan angkot Kalapa-Sukajadi yang menjadi transportasi utama untuk menuju statsion kereta api dari arah Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung.

Turun dari angkot tepat di tempat zebra cross pertigaan jalan membuat penulis tidak perlu lagi berjalan menuju tempat penyeberangan itu. Ya itulah sedikit kelebihan dari transportasi umum kita tapi cerita tidak selesai disini. Menyeberang dengan sedikit susah karena lebarnya jalan dan tidak ada tombol untuk menjadikan lampu lalu lintas menjadi merah dan menjadi hijau untuk pejalan kaki walau disana terpasang lampu untuk pejalan kaki yang hendak menyeberang jalan. Dengan sedikit aba-aba dan berjalan cepat untuk keseberang jalan, akhirnya berhasil pula sampai di seberang jalan.

Kereta Mutiara Selatan

Alat transportasi yang satu ini membuat penulis sedikit bernostalgia. Dari sekian lama penulis meninggalkan Kereta Api di Indonesia dan akhirnya penulis merasakan kembali kenikmatan nostalgia. Masih segar diingatan, bagaimana dulu bisa bercengkrama di dalam gerbong dengan keluarga dan merasa mewah muskipun dulu telah ada kereta api eksekutif.

Perjalanan dengan menggunakan kereta api merupakan salah satu transportasi umum yang bisa dibilang aman jika kita bandingkan dengan bis dan pesawat. Dan kita tidak perlu ikut memikirkan apa yang terjadi di jalan.

Tapi pemikiran itu buyar sekitar pukul 02.15 saat meninggalkan Solo-Balapan, dalam kenikmatan setengah tidur terdengar teriakan ”maling” dari seorang ibu perempuan yang duduk di urutan pertama gerbong. Telah terjadi tindak kriminal di kereta yang sedang berjalan. Hal itu membuat panik seisi gerbong, hingga seorang bapak-bapak berbadan besar dari gerbong depan menghampiri ibu tersebut dan menanyakan kronologis kejadian, mungkin dia seorang polisi Kereta Api, oh bukan! Dia hanya penumpang yang hanya menanyakan layaknya seorang aparat keamanan di kereta api yang akan membereskan masalah ibu itu, ya mungkin itu rasa peduli dari kita, tapi suatu harapan kosong yang ada pada ibu itu. Tapi tak di sangka saat penulis keluar dari kamar kecil, sekitar 10 menit dari kejadian, para pamong telah berdiri tepat di hadapan ibu tadi dengan menanyakan seperti apa yang mungkin tadi di tanyakan oleh penumpang dari gerbong depan. Tak heran hal seperti ini terjadi, saat penulis di kala kecil dengan menumpang di kereta api mutiara selatan, saat singgah di setiap statsiun kereta api para pedagang di tidak bisa masuk untuk melakukan penawaran terhadap penumpang. Tapi sekarang tidak.

Begitu pula dengan keamanan dasar dari Kereta Api Mutiara Selatan, pintu gerbong! Pintu gerbong kereta tidak tertutup saat kereta berjalan. Mungkin petugas kereta api lupa untuk menutup pintu? Oh bukan! Pintu itu sengaja dibuka oleh crew kereta api dengan alasan agar lantai tempat antara gerbong kering. Lalu bagaimana pihak kereta api mau meminimalalisir tindak kriminal di atas kereta api jika crew-nya sendiri sengaja membuka pintu gerbong kereta api.

Angkot H-4

Kendaraan umum yang  jadul. Penulis bisa merasakan masa-masa SMP saat pulang dari sekolah dengan menumpang angkot tersebut. Nostalgia mungkin bagus jika itu ditempat-tempat yang penuh memori dan kita bisa mengenangnya tapi rasanya kurang pas jika bernostalgia ria dengan menggunakan kendaraan umum yang jadul.

Sepengetahuan penulis, kendaraan memiliki usia layaknya benda yang bisa angus suatu saat nanti. Muskipun dengan adanya peremajaan kendaraan, entah itu di bagian yang mana, tapi rasanya jika kendaraan lawas terus di gunakan banyak efek yang ditimbulkan, mungkin dari emisi gas buang yang di hasilkan, keamanan dan juga image kota tersebut.

Kota modern dengan berisi kendaraan umum berusia tua memang bukan suatu hal yang penting untuk di bicarakan tapi jika berpandangan mempercantik kota meliputi kendaraan umumnya, mungkin akan lebih terasa nyaman bagi penduduk kota tersebut untuk memilih kendaraan umum daripada menggunakan kendaraan pribadi.

Trilogi transportasi mungkin sedikit contoh dinamika kehidupan kendaraan umum yang terjadi di Indonesia, di jawa tepatnya.

Halte yang tidak digunakan, tindak kriminal di atas kendaraan umum dan kendaraan lawas yang terus digunakan hingga sekarang merupakan contoh real yang penulis alami.

Anda ingin membangun Indonesia?

December 24, 2009

Reality show : Pembodohan publik?

Reality show : Pembodohan publik?

Tidak sengaja membaca thread di forum-forum indonesia yang membahas tentang perkembangan media terutama televisi di indonesia dan menyamakan dengan apa yang penulis alami saat menonton televisi.Terbesit betapa mirisnya media yang sedang berkembang sekarang ini di indonesia.

Seperti jamur di kala musim penghujan. Reality show,  suatu program investigatif yang menguak akan sesuatu kenyataan entah itu persoalan perselingkuhan pacar, keluarga, jodoh sampai rumah semakin banyak di tayangkan. Untuk kali pertama yang  menonton reality show mungkin akan terkesima seperti yang penulis dulu rasakan, betapa positifnya jika media di gunakan untuk menyadarkan dan berbagi terhadap sesama.

Ide adanya reality show merupakan suatu ide yang brilian dimana orang bisa menjadi lebih paham akan kehidupan dengan contoh-contoh langsung yang di tayangkan, tapi dengan keranjingannya televisi sebagai media seolah-olah di atas angin akan membludaknya rating reality show yang bisa ditandakan semakin banyaknya tayangan tersebut di berbagai media televisi.

Bak sinetron atau opera sabun, penayangan reality show semakin lama semakin terlihat keluar dari jalur yang ada yaitu menggunakan tokoh-tokoh fiktif atau adegan rekayasa dll, seperti apa yang dulu penulis pernah tonton, suatu adegan dimana mobil seolah-olah tertabrak. Di dalam adegan itu, jelas menunjukan ”aktor dan aktris”nya mengalami luka yang cukup serius hingga mengalami pendarahan yang cukup parah di daerah muka, yang berarti mobil pada saat itu mengalami hantaman yang cukup dahsyat. Suara tepukan tangan saat membunuh nyamukpun bisa memecah keheningan malam, lalu bagaimana dengan suara yang dihasilkan dari tabrakan yang dahsyat tersebut, yang membuat sang ”aktor dan aktris” terluka parah? Dan dimana masyarakat sekitar? Walaupun itu terjadi di dalam komplek rumah orang-orang kayapun, penulis yakin akan ada keluar yang melihat pada saat itu, tapi yang penulis tonton, lalu kenapa terlihat biasa-biasa saja?

Penonton menerima jadi semua isi tayangan tersebut (taken for granted) dan merasa terhibur dengan adanya reality show suatu point tersendiri untuk televisi, tapi apakah bisa mendidik penonton dengan cara membuat cerita fiktif , adegan rekayasa dll?

(terbuka untuk diskusi)

salam

December 14, 2009

Seragam sekolah

Seragam sekolah

Kenangan dan salah satu saksi bisu kita terdapat di seragam sekolah kita. Pahit, manis semua berada di seragam sekolah kita. Dari Taman Kanak-Kanak hingga SMA kita di wajibkan menggunakan seragam sekolah. Pertanyaan penulis, untuk apa sebenarnya seragam sekolah? Apa hanya sebagai saksi bisu dinamika kehidupan anak sekolah?

Dari di-gratis-kannya sekolah walau hanya dari uang SPP, tapi sekolah tetap men-charge harga bagi siswa yang baru masuk hingga yang akan mengakhiri masa sekolahnya termasuk seragam sekolah yang terkadang masing-masing sekolah memiliki ciri khas tertentu dalam seragam sekolahnya. Dari batik yang berlebel sekolah tersebut, bet lokasi sekolah hingga warna rok (bagi siswi) dan masih banyak pernak pernik seragam sekolah yang harus siswa patuhi.

Saat penulis masih di bangku sekolah, yang penulis ketahui mengenai seragam sekolah itu untuk mem-bias-kan kesenjangan sosial yang ada di antara para siswa, apakah itu benar adanya ?

Coba kita lihat kembali, berapa banyak kasus yang menimpa siswa-siswi. Dari tawuran, seks di sekolah, judi dan tindak krimanal ataupun kenakalan remaja lainnya. Apakah seragam sekolah itu untuk memberi point kepada siswa-siswi yang bermasalah?

Yang sudah tertanam di kita adalah suatu prestige jika kita sekolah di sekolah yang ternama, memiliki record track yang baik dll atau malah sebaliknya, merasa menjadi siswa buangan karena sekolah di sekolah pinggiran. Dan apakah seragam sekolah masih perlu untuk sekarang ini?

Dimana hak-hak para siswa yang telah melakukan tindak kriminal ataupun tidak, jika seragam sekolah telah memberi ciri khas bahwa siswa tersebut merupakan siswa yang nakal atau baik?

Melakukan seks di sekolah, tawuran dan tindak kenakalan lainnya itu adalah hak setiap siswa. Dan salah saat melakukan itu semua dengan menggunakan seragam sekolah. Lalu apa gunanya seragam sekolah? Yang harus di sadari lagi adalah, para siswa berkumpul tidak hanya untuk belajar formal tapi mereka secara otomatis ingin mengetahui pelajaran non-formal.

Para siswa-siswi masih terbatasi dengan budaya, pemikiran dan norma-norma yang dangkal yang notabene mereka mencari jalan keluar dengan cara mereka sendiri. Kreatifitas tidak perlu di batasi apalagi terbatasi dengan suatu yang statis, salah satunya yaitu, seragam sekolah. Selama mereka mau berpikir, mereka adalah sosok manusia seutuhnya.

November 25, 2009

Pengantin Perempuan (Part III )

Pengantin Perempuan (Part III )

-Kenikmatan-

Entah dia mau mulai dari mana untuk mengatakannya, bahwa apa yang dipikirkannya saat di dapur sedikit mempengaruhi dirinya. Banyak keinginan-keinginan dia yang ingin dia lakukan untuk saat ini.

-         “Rasanya ini bukan hidup aku”, ucapnya lirih.

Terus dalam pikiran kosongnya, dia mencoba membayangkan dirinya saat ini menjadi seorang wanita karier yang mempunyai janji bersama teman-temannya untuk keluar malam ini. Dengan seyum yang dia kembangkan, mencoba memeluk kembali dan mencium laki-laki yang sekarang menjadi suaminya itu. Pagi yang cukup cerah untuk memulai sesuatu yang baru. Tapi tidak untuk sang pengantin perempuan.

Sang lelaki ini terbangun dari tidurnya, terbangun karena teriakan keras dari suara adzan subuh yang tidak jauh dari rumahnya. Gang itu terlihat padat walaupun aktifitas belum seluruhnya dimulai. Sang istri dan anak perempuannya yang masih terlelap membuat dia ingin beranjak bekerja. Walaupun hanya sebagai kuli bangunan tapi dia masih merasakan kehidupan dulunya yang penuh dengan keberadaan. Dengan sedikit pengintip, dia menintip dari jendelanya yang penuh dengan debu. Matahari masih belum tiba !

Dia masih termenung dan menikmati kesunyian sementara dari jendela itu. Gang kecil yang masih kosong. Kesunyian itu bagaikan kesunyian yang membuat dia merasa menikmati hidup. Dia merasakan diri sejatinya saat itu, ketenangan jiwa yang menjadi motivasinya untuk bertahan hidup. Hanya dia. Menjadi seorang dewa walaupun itu hanya beberapa menit.

Berjalan kecil dengan handuk berwarna abu-abu kekuningan menuju kamar mandi yang menjadi milik semua orang. Udara dingin yang dia rasakan membuatnya sedikit malas untuk membersihkan diri, teringat masa kecilnya yang bisa dikatakan ada.

Menjadi kuli bangunan bukanlah keinginan dia, ini hanya sepenggal ceritanya, dia mengetahuinya jika masa-masa ini adalah masa-masa indah yang tidak semua orang bisa merasakan.

Air pun telah membasahi seluruh tubuhnya, dia merasakan kesegaran yang membuatnya ingin lagi dan lagi di basahin oleh air dingin itu. Hembusan udara pagi menyentuh kulit kecoklatannya yang membuatnya ingin meminum seluruh air itu. Kehausan yang amat sangat akan kenikmatan. Tapi dia menyadari, inilah kenikmatan kedua itu.

Kiai ini telah merasakan kenikmatan, sholat subuh berjamaah yang dia imami membuatnya menjadi tenang dan merasa berdosa telah berpikiran apa yang ia pikirkan tadi. Setiap lafal Tuhan ia sebutkan dalam hatinya, entah itu saat berdiam diri ataupun sedang membersihkan bagian-bagian suci masjid. Terus dan terus dia lafalkan, menikmati keindahan memujaNya.

Duha menjadi kebutuhan keduanya setelah sholat di awal sebuah hari. Setiap kata-kata yang keluar menjadi sebuah kenikmatan yang membuatnya ingin terus menjadi seorang yang beriman. Seorang yang memang berasal dari keluarga yang taat beragama dan berhasil menjadi penerus keluarga yang membanggakan.

Tidak ada orang yang tidak mengenal dia. Keimanannya menjadi dia sangat dikenal dan dihormati masyarakat sekitar, salah satu tokoh masyarakat yang disegani setelah ketua RT.

Langkah cepat dia untuk memakan sedikit hidangan pagi yang sudah dingin, sisa tadi malam. Dia benar-benar menjaga agar semua tidak terbuang dengan percuma. Memasakan kembali makanan itu dengan kompor listrik kecil hasil infaq masjid. Merasakan cukup panas dan lezat dia hentikan kegiatan itu. Tapi bukan itu yang dia inginkan, hanya sekedar membuang listrik percuma.

-”Duh, ini bukan makanan namanya”, ucapnya kesal.

Membuka warung kopinya di pagi hari adalah rutinitas sehari-hari. Menyapu bagian warung yang sedikit kotor agar pembeli bisa nyaman dan betah saat membeli di warungnya. Perempuan telaten yang telah menyambung usaha keluarganya sekitar 10 tahun yang lalu. Menjadi pedagang warung merupakan warisan keluarga yang dia anggap cukup membanggakan. Mengemban amanat orang tua dan menjadi pemuas pembeli. Warungnya bagaikan mall bagi orang-orang sekitarnya, keberadaannya yang lama cukup membuat warung ini dikenal di daerah itu. Istana kecil bagi mereka.

Setiap daganngan yang ingin dia jual telah dia siapkan di tempatnya. Dia telah mengerti betul mekanisme dalam mengatur kebutuhan warungnya. Dia bukan dari orang yang berpendidikan tinggi tapi pengalaman membuatnya seperti ini. Pengaturan sistem yang rapi tanpa adanya latar belakang pendidikan.

Cita-cita pedagang warung ini ingin menjadi seorang penata rias di kampung sebelah. Tapi tangannya hanya cukup terampil dalam membuat kopi dan minuman lainnya. Dia usia yang cukup ada sekarang, dia memahami betul apa arti dari ceritanya. Kenikmatan yang dia rasakan saat membuat kopi dan melayani pembeli itu tidak terbatas. Pedagang warung ini cukup beruntung, berada di kawasan yang tidak terjamah oleh petugas penertiban. Dan wilayah dimana semua orang membutuhkan tempat yang layak pada malam hari untuk sekedar melepas lelah dan bercengkrama dengan sesama manusia.

Pedagang warung ini cukup mengenal siapa-siapa yang rajin bertandang ke warungnya. Dan mengetahui setiap pemilik motor yang melewati warungnya. Warung ini bagaikan sebuah pos dimana semua orang harus lapor setiap malam.

Masih terlelep di kelelahan bersama alkohol dan perempuan malam. Suara gelas yang terjatuh menghancurkan keheningan di tengah kekacauan. Puntung rokok yang mati oleh angin membuat asbak putih itu kekuning-kuningan dan terhempas oleh tangan laki-laki yang menghabiskan malamnya dengan kenikmatan itu.

Tetesan dan bekas air mani pun masih menempel di kasur tapi dia hanya tertunduk dan melihat sekeliling. Membuka hordeng jendela dan menggaruk selangkangan merupakan kenikmatan yang dia rasakan saat semua itu telah berlalu, merasakan puas dan lega bahwa dia bisa melakukannya. Tidak sia-sia dia mencari uang, kenikmatan itu dia ganti dengan alkohol, teman-teman dan perempuan malam.

Sebatang rokok yang tersisa masih tertinggal di sudut kamar yang kacau. Hisapnya dia dalam-dalam, dan berbaring bersandarkan kursi rotan di belakang rumah kontraknnya. Teman-temanya telah kembali dipertigaan kehidupan. Dia tetap menikmati kenikmatan hari di kursi rotan.

-”Anjing, sumpah enak banget…”, katanya tegas.

Seolah hari itu bagaikan hari teristimewa baginya. Hari yang selalu terulang setiap dia memiliki uang yang pas untuk mendapatkan kenikmatan dengan harga yang memuaskan.

Bayangan seronok yang terlintas didepannya saat melihat perempuan manapun yang melewati kontrakannya. Kepuasaan dan kenikmatan yang abadi untuknya.

Sang pengantin perempuan beranjak untuk bergegas mandi, membersihkan diri dan bersiap untuk mengunjungi sang orang tua. Malam pertama yang tidak berkesan baginya.

Tapi dalam mandinya, dia merasakan kesejatian alami dari suaminya. Rasa kasih sayangnya yang tinggi dan kecintaan terhadap dirinya tidak sedikitpun berkurang. Perhatian yang tercurah sama seperti saat pertama kali mereka berpacaran.

Malam pertama bukan harga mati yang dia nilai, tapi kesungguhan pasangannya dalam mengarungi rumah tangga yang dia harapkan.

(bersambung)

August 9, 2009

Sebuah perjalanan : dinding kenanga

Sebuah perjalanan : dinding kenanga

Banyak hal yang terlewati, hadir dan pergi. Dia bukan hanya bagian dari cerita semata. Dia hanya bagian warna kehidupan yang bisa mewarnai keberadaan seseorang, bagai ucapan sang esksistensialist !

Sentuhan angin membuat hiasan dinding kenanga terurai datang dan pergi walau hanya sebagai pewarna bukan penghias.

Esok hari di hari yang masih pagi, masih banyak debu yang menempel, di bersihkan dan tersapu oleh air.

Warna merah di dinding kenanga mengandung arti lain dari hatinya, entah riang atau terbuang.

Tapi penulis mulai sadar, bahwa dia yang dulu… dulu… dulu…  penulis inginkan, tapi ah, ini hanya cerita lama sudah berapa lama dia seperti itu, sudah berapa lama penulis seperti itu.

Bohong kalo hanya dia yang dulu… dulu… dulu… penulis ingini.

Berapa kali dinding kenanga berwarna

Berapa kali debu menempel dan tersapu air

Berapa kali dia hanya berdiri dan menikmati dinding kenanga

Dia yang membuat perias bukan penghias, seperti sekarang ini, dinding kenanga.

Hingga saatnya nanti dia harus mengetahui, dinding kenanga, hanya dinding kenanga.

Moskow, 08.08.09

Viznakovo

April 28, 2009

Dunia aksetis

Dunia aksetis

Hanya dari dua kata, dunia aksetis. Bisa menggambarkan kemelut hati sekaligus tulisannya yang bersifat killing the time before I sleep.

 

Sebuah nama yaitu mahasiswa atau lebih luas dan bebas lagi yaitu pemuda. Dimana saat-saat yang pas untuk menikmati imajinasinya dengan pikiran dan ide-ide yang liar. Penciptaan sebuah karya baru yang bernama ide terlahir dari pemikiran kontras dan melawan arus. Menjadi aneh dan bersifat sakit mental. Entah untuk mendapatkan ego, hasrat atau malah termakan superego. Mungkin kata yang pas dan disinilah kebebasan berpikir dan berbicara dari penulis. Lucu jika memang hingga saat ini masih manja dan termakan arus liar superego. Sakit !

 

Langkah demi langkah sudah kita lewati hingga menjadi orang yang “besar”sampai saat ini. Bangga menjadi dirinya dan bangga jika aku menjadi “mutant” di antara yang lain. Menjadi aneh, liar, buas, di takuti, di segani bak seekor ular ganas dengan racun yang mematikan dalam sekejap. Tidak melihat seberapa besar tubuh sang korban dia akan mengejar demi hobinya yang cukup ganas. Membunuh !

 

Dia terlalu terobsesi buat mendapatkan yang bernama status. Status yang ter-ganas, ter-liar, dan manja oleh dirinya yang sakit oleh hobinya yang selalu membunuh. Dia terus mengejar apa yang namanya eksistensi. Pengembangan diri-pun terus dia lakukan untuk mendapatkan “nirwana”, tempat tertinggi dari yang tertinggi. Demi satu kata, tersempurna. Dimana tidak ada lagi langit di atas langit, dimana tidak ada lagi batas yang bisa menlebihinya. Disinilah aku, aku ada !

 

Semut hitam tetap menjadi barisan yang teratur dan tertata rapi. Mereka tahu kemana mereka akan bergerak, mereka tahu akan eksistensi sejati dan mereka tahu apa yang bernama ter-eksis. Cukup penyatuan “hati” dalam sinergi yang bersama demi kepentingan bersama yang dinamakan hidup. Mungkin penulis salah dalam pengartian ini.

 

Tidak cukup sampai disitu perjalanan kisah kita. Masih cukup panjang untuk mencapai “nirwana”. Kita butuh ruang. Ruang yang tidak bisa di ganggu gugat oleh siapapun bak ruang konsentrasi sebelum kita di hukum mati dengan gas ego, hasrat maupun superego. Pertama kita akan lemas, tak berdaya, lalu tertawa dan menangis, berteriak dan menjadi arogan di dalam kotak yang bernama pendidikan. Tapi perlahan kita menyadari eksistensi kita kebebasan dalam menentukan pilihan, hidup atau mati gantung diri. Mengenaskan !

 

Penulis hanya bermain dalam imajinasi, sakit dalam pilihan, berteriak dalam ruang bebas karena penulis tidak ter-manja diantara ego, hasrat atau superego, atau penulis bukan ter-eksis yang idealis yang tertata dan mengerti dengan penyatuan “hati” dalam sinergi yang bersama demi kepentingan bersama yang dinamakan hidup. Dia bukan sistem yang bisa ditundukan ataupun menundukan. Dia bukan pencontoh dan yang patut dicontoh, dia bukan tidak terjadi dan tidak menjadi. Dia bukan tuhan dan bukan yang di tuhankan.

 

Dunia aksetis !!!

 

Dikamar 811

Jalan Xolzunova 40a asrama no 7

Tanggal 28 April 2008

 

Darwadism

April 17, 2009

Pintu

Pintu

Hidup adalah perjuangan (dewa)

Terserah bentuknya seperti apa, terserah tempatnya seperti apa, terserah pandangan orang seperti apa. Pintu, terserah bagi setiap orang memikiran apa itu pintu, tapi dia akan menjadi pemisah antara dunia satu dengan dunia lainya. Terkadang kita tidak menyadari akan arti sebuah pintu. Dia akan selalu berada di tengah-tengah kita dan apakah kita bisa melewati lorong yang dilengkapi sebuah alat yang namanya pintu. Tidak butuh banyak tenaga untuk melewati sebuah pintu dan tidak pula semudah yang kita bayangkan untuk melewati sebuah pintu. Terlihat hiperbola, tapi coba pikirkan lagi, apakah arti pintu bagi kita.
Kebenaran yang alami sudah kita sepakati, pintu adalah sebuah alat untuk menutup atau membuka pemisah yang ada. Tapi adakah sebuah pintu yang bisa berkompromi dengan kita, adakah pintu yang mengerti kita.

Ada saatnya pintu itu kita buka dan ada saatnya pintu itu kita tutup. Tentunya pintu hanya alat, pelindung sejati adalah diri kita, dan apakah kita menyadari akan keberadaan pintu di diri kita. Dia akan semakin kokoh jika terbuat dari bahan yang kokoh pula, entah itu dari pohon jati atau baja sekali pun, tapi apakah kita mampu membuatnya dengan yang kokoh tersebut. Semakin kokoh semakin berat pula biaya pembelian, pembuatan, dan perawatan. Dan bagi kita yang memilih dari bahan yang rapuh, cukup dengan bahan dasar triplek dan rangka kayu biasa sudah akan menjadi sebuah alat yang namanya pintu.

Dia akan bersifat fleksibel jika kita pasang dengan engsel yang bisa dibuka dari depan maupun dari belakang alias dua arah begitu pula sebaliknya, dia akan bersifat kaku jika kita pasang engsel yang hanya mampu terbuka dari satu arah. Kita akan mudah kecolongan jika pintu dengan gampangnya terbuka dan kita pun akan terlihat kuno jika pintu hanya bisa terbuka oleh arah yang sama. Tergantung kita, engsel yang bagaimana yang kita ingin pasang dan apakah arti sebuah pintu yang cocok bagi kita, hanya kita yang mampu menjawab.

Kunci, ada saatnya kita mengunci pintu kita, saat kita lengah dalam kegelapan malam ataupun lengah pada kesibukan yang lain. Disni akan timbul kembali pertanyaan, sekuat apakah kunci yang kita punya, berkode atau hanya gembok sepeda ala mr.Bean. Kunci akan menjadi ujung tanduk dalam mempertahankan ke-kokoh-an pintu. Bagaimanapun, jika kunci pada pintu tetap pada tempatnya dan pintu sudah terkoyak berarti sebuah paksaan yang amat sangat sehingga pintu bisa terkoyak. Tergantung kunci yang bagaimana yang ingin kita pasang dan apakah arti sebuah pintu yang cocok bagi kita, hanya kita yang mampu menjawab.

Dia akan kita buka atau tutup saat kita sentuh dan gerakan gagang pintu ke arah kemana pintu itu terbuka atau tertutup. Terserah bagi kita gagang pintu yang seperti apa yang akan kita pasang, terbuat seperti apakah gagang pintu yang akan kita pasang, dan yang paling terpenting adalah, pas atau tidak gagang pintu itu di tangan kita. Mungkin ini bukan segalanya tapi akan terlihat konyol sebuah pintu tanpa gagang pintu. Dan kita menjadi budak pintu, hanya penjadi penunggu sejati sebuah pintu dan tidak mempunyai kebebasan karena hal yang sepele, gagang pintu.

Dia akan menjadi sebuah penengah dalam sebuah rumah, mobil, ruang kantor. Pemisah antara baik-buruk, bagus-jelek, suka-duka, kotor-bersih dan semua yang bertolak belakang. Saat diri kita terhimpit atau diri kita sedang dalam keadaan diatas angin, apakah kita masih peduli dengan diri kita, lingkuangan kita dan semesta kita dan apakah kita masih menyadari akan kehadiran pintu. Pintu bukan hanya sebagai pemisah atau penjaga tapi lebih dari itu. Kita bisa menambahkan tulisan atau pernak-pernik di pintu sebagai hiasan, sebagai penghibur dan sebagai refleksi.

Banyaknya fenomena tentang pintu. Terlihat kokoh dari luar ternyata dia tidak lebih dari kapas. Mudah terhempas angin. Adapula terlihat rapuh tapi dia bisa lebih dari baja sekalipun. Usia bukan segalanya tapi tangan yang bagaimana yang membuat dia..

Seperti halnya makanan, pintupun memiliki rasa. Dan rasakan rasa itu saat pintu itu telah tercampur dengan makanan yang lain. Apakah cocok atau malah menjadi tidak karuan dan hilang rasa aslinya. Tergantung apakah takarannya cukup dalam penambahan bumbu atau malah berlebihan. Kita yang akan rasakan sendiri. Saat semua sudah siap dihidangakn, siapkah rasa yang kita punya disajikan dengan rasa yang lain. Dan apakah takaran rasa yang kita punya akan pas dengan rasa pintu yang lain. Akan terasa mual atau malah menjadi rasa yang cocok bagi kita jika kita pas dalam penakarannya.

Pintu, pintu, pintu ! Sayang, hanya sebagian orang yang sadar akan kehadiranya. Sayang, hanya sebagian orang yang mampu merawatnya. Sayang, hanya sebagian orang yang memperhatikan elemen-elemen dari pintu. Dia seakan-akan hanya bagaian dari kehidupan yang akan bekerja saat kita terhimpit ataupun ditinggalkan dan pada saat itu doa-pun terlantun bak hajatan besar sedang dilaksanakan. Konyol, lucu dan tidak tahu diri. Dia akan menjadi kokoh seketika dan menjadi rapuh seketika. Pintu dari hasil tangan yang penuh noda.

Nyanyian alam akan kembali hadir saat kita harus melewati pintu. Bisakah kita melewati pintu yang sudah kita buat dengan susah payah atau sebaliknya, menjadi mudah. Saat kita melukis dan menorehkan peta pintu yang hendak kita buat. Disitulah kita, sadar atau tidak, kita mempunyai pintu. Secara sadar maupun tidak sadar, kita bisa melihat pintu lain. Dan pintu itulah yang menjaga kita, apakah kita mau menjiplak pintu lain tapi tidak pas dengan kita. Semoga pintu kita menjadi pintu yang pas bagi kita.

March 25, 2009

Media : taken for granted

Media : taken for granted

 

Who controls the past now controls the future
Who controls the present now controls the past
Who controls the past now controls the future
Who controls the present now?

 (rage against the machine)

 Sebelumnya penulis ingin mengenalkan rage against the machine, nama itu merupakan nama sebuah grup musik di amerika yang mengambil inspirasi dari zapasttista di beberapa lagunya. 

Dari “pergerakan” hegemoni yang di coba dilakukan oleh rage against the machine (RATM), mungkin sudah mengenai kaum muda yang pada khususnya dikalangan yang memahami tentang politik, filosofi dan ketidakadilan.

“Taktik” dalam penggunaan metode ini sudah sangatlah jelas, untuk siapa karya mereka ditujukan, untuk apa karya mereka ditujukan dan bagaimana karya mereka ditujukan.

Isi dari kebanyakan lagu mereka merupakan syair-syair perjuangan dan pemberontakan terhadap “lingkungan”, ketidak adilan, penuh makna politis dan filosofi. Syair-syair mereka cukup memberikan inspirasi bagi para “pejuang bawah tanah”. Ketidakpuasan akan keadaan yang ada, ketimpangan sosial dan keterpurukan bangsa.

 Jika melihat sedikit sejarah yang terjadi di serial revolusi Renaissance, dari Puisi La Divina Commedia karya Dante Alighieri, Lukisan Monalisa karya Leonardo da Vinci, Revolusi Gereja di Saxony (Jerman sekarang) yang dipimpin oleh Martin Luther pada abad 16 yang melahirkan Protestanisme dan terakhir Revolusi pengetahuan dengan dicetuskannya semboyan “cogito ergo sum” – “aku berpikir maka aku ada”.

Sudah cukup memberikan contoh pada “dunia” kotemporer untuk melakukan sebuah perubahan, bagaimana, apa dan siapa yang harus dirubah. Pada akhirnya “mutant” harus mengerti bagaimana manusia hidup. Tidak terlepas dari sisi humanitas yang telah menimbulkan sesuatu yang baru, irasionalitas.   

 Irasionalitas yang ada telah menciptakan sesuatu yang baru dari Freud mempertanyakan rasionalitas subyek modern dan mendestabilisasinya, dengan menteorikan struktur psikis manusia kedalam Ego-Id(nafsu)-Superego. Perlakuan semena-mena dari para “pemain catur” dalam “sistem” yang baru dan menimbulkan apa yang di katakan penguasa dan penderita.

Penguasa, yang sudah tersusun dari sistem hirarki yang ada, penguasa dalam instrumentalis  traktat Westphalia sekalipun menciptakan penderita. Penderita dalam hal ini pembungkaman hingga pembunuhan.

 

Sejarah dalam perkembangan media pun dipenuhi pelik dari berawal hanya penulis berita di Yunani, penggunaan surat kabar pertama kali di rusia oleh Petr I sebagai alat propaganda pemerintahaannya, Johannes Gutenberg(1456) yang memulainya surat kabar di daratan eropa pada abad 17 hingga yellow journalism era Hearst dan Pulitzer di amerika telah memberikan arti dari sebuah media, propaganda.

 Penguasa dengan apa yang dilakukan Petr I di Rusia kala itu, mencontohkan sebuah hegemoni dengan memanfaatkan “keterbatasan” masyarakat pada saat itu. Dari keterbatasan tersebut menimbulkan pengaturan. yang mudah di lakukan oleh “penguasa” terhadap “penderita”. Pengaturanpun bisa diatur oleh, seperti apakah “wacana” yang mau diangkat, seperti apakah peran pengatur dalam “wacana” tersebut.

 Perkembangan mediapun terus berputar dengan beriringnya waktu, hingga media menempati posisi ke empat dalam struktur suatu bangsa(Proxorov, 1994). Tempat yang cukup memberikan arti luas bagi para pekerja media, apakah menjadi pihak A, pihak B atau pihak “abu-abu”. Pembangunan sebuah bangsa atau dalam penghancuran sebuah bangsa sekalipun tidak terlepas dari peran media dan disinilah peran media. Costumer media akan menganggap berita yang disampaikan sesuatu yang objektif dan cenderung meneriam secara taken for granted(Baran, 1998). Dan Media memegang kendali penuh terhadap isi (content)-nya. Inilah yang disebut agenda setting media (McCombs dan Shaw, 1972).

 Sekilas membaca tulisan Dahlan Iskan di Jawapos Dahlan Iskan : RAPBN Krisis, Arena Perjudian Obama” edisi sabtu 21 maret 2009. Tentang penggunaan media Obama yang saat ini lagi beliau gunakan dengan gencar-gencar. Sebetulnya, dari apa yang Dahlan Iskan sebutkan sudah menjadi “materi” yang cocok untuk Indonesia dalam menggunakan sarana media dalam bersuara, baik dikalangan elite maupun tidak elite. Coba kita mengingat kembali, perkembangan Obama yang hanya berawal dari seorang senator dan “bergelut” di arena perebutan kursi presiden. Penggunaan media berupa jarring sosial merupakan langkah efektif yang bisa ditempuh dalam mencari dukungan maupun bersuara.  Seperti apa yang dikatakan oleh Dahlan Iskan, “Obama tahu risiko yang sedang dia hadapi. Karena itu, dia menyiapkan strategi kaki seribu.” Sebuah langkah yang jitu untuk menindak lanjuti serangan-serangan oposisi dalam mencari dukungan.

Mungkin disni penulis ingin lebih “ekstrem” dan berbeda dalam mengutarakan pikirannya. Seandainya, pemilu dapat dilakukan hal yang serupa layaknya Obama menggunakan media. Mungkin biaya yang dapat di hemat jauh lebih bisa ditekan dan disalurkan ke “lorong” yang lain, disalurkan lebih bagi yang membutuhkan.

Dan mungkin tidak hanya “materi” yang dapat di tekan, tapi lebih dari itu. Penggunaan BBM saat berkampanye, biaya penggunaan baleho, spanduk dan semua atribut kampanye pun bisa ditekan. Terinspirasi dari banyaknya demo-demo yang dilakukan, mungkin bukan saatnya lagi kita “frontal” dalam menggunakan sesuatu di sekitar kita. Dalam hal ini penulis bukan berkata bahwa masyarakat kita sudah terlanjur pragmatis dalam berapresiasi. Tapi lebih ke pengingatan kembali, bahwa “lingkungan” ini pun tidak selamanya terus “nrimo” dengan perlakuan kita.

 Seperti “penguasa dan penderita”, saat ego gagal mengatasi keinginan nafsu, bisa disimpulkan bahwa manusia itu sakit/mentally ill. Sementara itu, superego yang merupakan nilai-nilai yang ditanamkan oleh lingkungan ke subyek. Oleh penulis mencoba diartikan secara taken of granted, yaitu kebiasaan-kebiasaan yang ada di lingkungan Indonesia. Dan penulis menarik lebih makro dengan apa yang terjadi, saat para pelaku politik melakukan kampanye, saat pelaku politik mengeluarkan agitasi-agitasinya. Yang banyak terjadi adalah penggunaan “lingkungan” secara frontal dan cenderung tidak mengerti dengan “lingkungan”. Mungkin  ini hanya sedikit subjektifitas dari penulis, apa yang terjadi adalah, pencemaran “lingkungan” dan menurut penulis itu tidak efektif. Dalam hal ini mungkin silakan dipikirkan kembali. Manusia sebagai penguasa dan “lingkuangan” sebagai penderita.

 Dan jika timbul pertanyaan, lalu kemana para penggerak ekonomi dalam “penyaluran” ego para pelaku politik atau kampanye. Dari sudut pandang penulis, pertanyaan itu bukanlah resolve the problem, tapi merupakan avoid the problem. Disini, pembelajaran kesadaran para mencari ilmu pengetahuan sangat di butuhkan. Jika penulis bisa berpendapat, peran para “aktifis” akan kurang terasa jika tidak ada kontribusi langsung dan nyata dimasyarakat. Penggalan kalimat yang cukup idealis. Tapi jika ego tadi sudah merasuk terlalu dalam pada nafsu, dan termakan oleh superego, sama halnya kita semua sudah menjadi sakit/mentally ill.

 Kembali ke dalam tulisan Dahlan Iskan yang berbicara tentang RAPBN Amerika yang sedang diperjuangkan, seperti layaknya perebutan kursi presiden atau pemilu. Bagi penulis, ini merupakan langkah besar yang patut dicontoh bagi seluruh pemimpin bangsa, bagaimana “kiri” berpikir dan bertindak atas kenyataan yang ada. Bukan suatu langkah arogan dan frontal, tapi langsung mengagrah pada target. Perjuangan adalah pelaksaan kata-kata. Mungkin itu yang bisa kita ambil, pelaksanaan kata-kata, sejauh mana kita mau melakukan perubahan, sejauh mana kita peduli akan “lingkungan”, sejauh mana kita mau melihat rumput kita jauh lebih hijau dari rumput tetangga dan sejauh mana kita bangga akan makna merdeka. Suatu perubahan akan sedikit menimbulkan chaos. Mungkin jika kita ambil sedikit contoh, seorang aktitis yang sangat idealis menjadi anggota dewan atau menjadi anggota “imeprialis baru”, akankah keidelisannya bisa dipertahankan, mungkin disini akan menimbulkan chaos, bentrok, pertarungan pada diri sang aktifis tersebut. Apakah menjadi seorang yang ditinggalkan atau menjadi pengikut sejati “imperialis baru” atau bahkan menjadi bermuka dua. Sebuah kisah klasik untuk masa depan (Sheila on 7).

 Sudah jelas, peran “masyarakat” sangat penting dalam keberhasilan suatu “kelompok”. Jika terjadi pembatas yang tebal antara kaum “elite” dan kaum “tidak elite” bisa dikatakan, landasan pokok dari kelompok tersebut adalah “penindasan”. Mungkin ini salah dalam pengunaan kata tapi penulis berpendapat bahwa itu adalah penindasan. Penindasan bisa bermakna luas dan dua arah. Penderita adalah “lingkungan” dan penderita itu pun bisa menjadi penguasa dan sang pelaku penindas lingkungan begitu dan seterusnya. Karena nilai yang sudah ada sebelumnya memaksa kita untuk berbuat “apa kata yang terdahulu” dan mitos-mitos lainnya. Peran aktif “lingkungan” untuk kembali seperti “lingkungan” yang harmoni sangat di butuhkan. Contoh sederhana yang bisa kita ambil, penggunaan bungkus plastik saat ke pasar atau penggunaan media elektonik pada rapat paripurna misalnya. Tapi apa bisa?

 Jadi, yang ingin di tekankan penulis disini adalah media. “Dunia” kotemporer bukanlah dunia yang arogan terhadap lingkungan, bukanlah dunia yang berada di era pencerahan. Tapi merupakan dunia yang seharusnya mengerti dengan “lingkungan”, menjadi bagian dari “lingkungan dan peduli dengan “lingkungan”. Penulis berpendapat,  keterbatasan kita dalam menerima merupakan suatu tantangan kita dalam memberi. Penggunaan media, terutama media elktronik harus lebih di gencarkan, bukan hanya dari tim sang penguasa tapi juga sang penguasa itu sendiri. Apakah sudah bisa memanfaatkan media? Dan apakah sudah mengenai target “lingkungan”? Apakah penderita sudah peduli dan sadar bahwa penderita itu merupakan penguasa? Apakah “tembok” itu sudah tidak membatasi antara penguasa dan penderita? Dan yang terpenting, Who controls the present now?

 

Pertanyaan naïf dari seorang yang jauh.