Pilihan

Well, hidup ini pilihan kawan, kita memilih ke kanan atau ke kiri. entah mana yang akan jadi yang terbaik, itu tidak bisa kita jawab sekarang, tapi cuma waktu dan kita sendiri yang akan jawab.

Dengan kondisi sekarang, cukup. tapi nanti kita nanti tidak akan tahu, apakah tetap akan seperti ini, maju atau malah mundur. Itu yang sekarang menjadi persimpangan. Hidup itu pilihan dan yang akan terjadi nanti kita tidak pernah akan tahu.

Jakarta atau Sydney

Leave a Comment

Filed under Pikiran Darwadi

Lalu LIntas cerminan sebuah bangsa

Kanan, kiri, serong kanan, sering kiri, mencari jalan terlowong untuk mendapatkan akses tercepat untuk sampai ke tujuan. Belum lagi di saat macet dimana antrian panjang yang susah diatur muskipun ada yang bertanggung jawab akan kelancaran jalanan, SATLANTAS.

Kemacetan di Jakarta, bisa dibilang cukup akut muskipun ada yang jauh lebih akut seperti Moskow. Susah dibayangkan kondisi kemacetan jakarta yang cukup akut ternayata ada yang lebih gila.

Perbedaan yang cukup menonjol antara jakarta dan moskow yaitu kenyamanan. Macet yang melebihi standart dari Jakarta itu masih di dukung dengan kenyamanan yang bisa dibilang jauh lebih manusiawi. Bis yang muskipun padat tetap menutup pintunya, mobil dan pengguna jalan lainnya tetap mengerti bagaian jalan mana yang tidak boleh dilalui apalagi untuk jalur tram.

Begitu pula untuk kendaraan yang tadi penulis bilang, manusiawi. Dalam hal ini kendaraan yang benar-benar tidak mengganggu pengguna jalan yang lain, memang bisa dibilang masih ada beberapa yang masih mengganggu seperti asap knalpot yang tebal tapi jika dibanding dengan Jakarta, kita jauh lebih cinta asap tebal sepertinya.

Belum lagi saat semua dalam actionnya. Saling serobot dengan asap tebalnya, melebihi garis marka tanpa perintah sang satlantas, pernak pernik jalan seperti pak ogah yang memang hanya ada di Indonesia. Lalu lihatlah negara tercinta kita ini, layaknya lalu lintas kita bukan? Bagi yang menjawab bukan, biarkan penulis terus menjelaskan kelanjutan dari tulisan ini.

Mari kita analogikan jalanan dengan perputaran pembuatan dokumen entahitu paspor, Sim atau yang lainnya yang berkaitan dengan aparatur negara dan masyarakat. Banyaknya calo atau mafia di setiap departemen pemerintah bagaikan pak ogah yang sibuk memberi jalan kepada setiap pengguna jasa dari pemerintah. Mereka akan terus ada jika terus dan terus penyelewengan posisi, seorang calo tidak akan menjadi calo jika pekerjaan tersedia. Begitu pula pak ogah yang kerap kali kita temui disetiap sudut jalan, mereka tidak akan ada jika pemerintah mempunyai trik yang ampuh untuk para pak ogah dan mafia hukum atau calo yang sebenranya bisa lebih diberdayakan. Kembali pada lapangan pekerjaan yang merupakan PR besar pemerintah.

Kedua, lihatlah banyaknya politik kantor yang lucu, seperti itulah jalanan kita dan kehidupan bangsa kita, siapa yang kuat dia yang dapat. Siapa yang kaya dia yang berkuasa, siapa yang lemah dialah yang terjajah. Lihatlah jalanan dengan dinamikanya.

Bill Clinton – lihatlah suatu negara dari lalu lintasnya –

Cerminan yang sangat mudah untuk pemerintah kita dan kita sebagai masyarakat bercermin.

Salam.

Leave a Comment

Filed under Pikiran Darwadi

Untuk mengenang para pahlawan

Dia seorang pahlawan, dia seorang penggagas, dia seorang creator dan dia seorang idealist

Jasa dia torehkan di secarik kertas baja dengan tinta emas

Dunia membuat dia mejadi seorang yang patut dipuji, patut dihormati, patut sanjung dan semua kepatutan yang sangat terhormat berada dipundaknya dan dadanya.

Seperti kebanyakan, dia terlahir dari sebuah keluarga yang sederhana, harmonis dan bahagia.

Tapi perang telah merubahnya menjadi mimpi buruk.

Perang tak selalu pertempuran fisik atara aggressor dan yang tertindas

Perang tak selalu menjadi medan pamer para “prajurit” sejati

Perang tak selalu membuat susah atau tertindas dan perang pun tak selalu menyenangkan

Jika dunia ini bisa merubah penjumlahan, 1 + 1 = -43

Jika dunia ini bisa merubah pengurangan, 1 – 1 = 47

Dan perangpun dapat dihindari.

Mengenang para pahlawan adalah suatu tindakan bodoh dimana terdapat propaganda Negara untuk menciptakan lagi “prajurit-prajurit” muda yang lebih tangguh, lebih kuat dan lebih arogan.

Dengan mengenang pahlawan, kita menjadi budak sejarah dimana dulu kita pernah tertindas dan pernah menderita.

Untuk apa?

Untuk mencegah kembali kejadian-kejadian yang tidak mengenakan tersebut.

Untuk menjadi lahan pamer bahwa aku kuat.

Atau untuk menjadi ladang uang.

Sejarah merupakan sebuah identitas bangsa yang jangan pernah hilang

Tapi sejarah itu sendirilah yang merubah identitas bangsa itu sendiri

Lalu, untuk apa membaca buku sejarah. Lalu, untuk apa memahami sejarah. Lalu, untuk apa sejarah?

Sejarah tidak ubahnya sebuah tulisan yang tertulis di setiap segulung tisu toilet, cukup sekali lihat, tarik, sobek, lipat dan siap untuk membersihkan kotoran.

Sejarah adalah tisu toilet yang bagus untuk membersihkan kotoran, dengan sejarah kita bisa bisa hidup lebih bersih untuk kedepannya. Dengan sejarah kita bisa mengerti bahwa air jauh lebih bersih dalam membersihkan kotoran : pengetahuan dan pendidikan.

Kita dulu bangsa yang tertindas karena pengetahuan, dulu kita bangsa yang bodoh. Dan budaya itu tetap abadi dan mengalir pada darah kita. Kita tetap bangsa yang bodoh.

Kesenjangan sosial berawal dari pengetahuan dan pendidikan. Ketimpangan yang ada berawal pengetahuan dan pendidikan. Dan oleh pengetahuan dan pendidikan lah kita penuh dengan kesenjangan dan ketimpangan.

Hanya kaum bangsawanlah yang dulu bisa mengeyam bangku sekolah dan itulah pengetahuan dan pendidikan yang ada sekarang : Hanya kaum yang beradalah yang bisa mengeyam bangku sekolah.

Dan sekarang hanya kepada pahlawanlah kita bisa bertanya, apa yang telah kau kasih pada Negara?

Dan sekarang hanya kepada pahlawanlah kita bisa bertanya, apa yang telah Negara kasih padamu?

Apakah cukup jasamu dibayar dengan hormat dan lagu Indonesia Raya?

Apakah cukup jasamu dibayar dengan ucapan, terima kasih?

Apakah cukup jasamu dibayar dengan cara mendengarkan kisah perjuangan tempo dulu?

Apakah cukup jasamu dibayar dengan reuni bersama?

Dan dengan siapa kita sekarang berperang, jika perdamaian sudah tercipta.

Ekonomi, sosial, budaya and many more

Krisis, ladang yang memaksa kita untuk berpikir untuk dapat bertahan hidup

Bagaimana aku bisa bertahan di tengah rimba perdamaian

Semua tertata dengan alur dan teknis yang telah di pikirkan dengan matang-matang

Apa keuntungan dan kerugiannya. Dan disitulah kita menajadi konsumen sejati

Konsumen post-modernist yang selalu terdepan dalam inovasi

Menjadi berbeda adalah sebuah tuntutan agar dapat diterima oleh khalayak

Terdepan dalam segala hal, mudah dalam mendapatkan segala hal dan senyum untuk mendapatkan semuanya

Mendapat penghargaan berupa yang ter-

Terkotak dengan kebutuhan yang bernama ekonomi

Untuk mengenang para pahlawan : dengan siapa kita berperang?

Dan pahlawanpun menjawab, pertanyaan klise

-Darwo-

Leave a Comment

Filed under Sastra Darwadism

Kumpulan syair yang terlupakan : RINTIK HUJAN YANG TAK PERNAH BERHENTI dan Tatanan Yang Ironi

Setelah membuka kembali file-file lama di harddisk external, dua buah syair tergeletak diantara kumpulan-kumpulan file yang usang dan entah kapan aku menulisnya, aku lupa.

RINTIK HUJAN YANG TAK PERNAH BERHENTI

Seharian penuh ini aku hanya melihat rintik hujan

Seharian penuh ini aku hanya merasakan derunya angin hujan

Jakarta, Moskow, Voronezh atau entah itu dimana

Aku bisa merasakan hujan yang sama : air

Akan menjadi sebuah pecutan bagi mereka

Hujan yang sama dengan perilaku yang berbeda

Kenapa bisa?

Tidak ada tempat yang sempurna selama manusia itu sendiri yang membuat

Tidak ada sesuatu yang sempurna selama manusia itu sendiri yang merencanakan

Dan tidak ada sesuatu yang sempurna selama manusia itu sendiri yang melanggarnya

Mereka pun belum bisa berbangga diri jika mereka masih bisa merasakan hal bodoh di sekitar mereka

Tidak lebih dari seorang pecundang sejati yang menghargai dirinya sendiri dengan dada terbusung di atas pena yang menuliskan sejarah yang kelam.

Dan juga tidak lebih dari sebuah anjing betina yang ingin bercinta saat dia menganggap dirinya sebuah mahakarya : haus akan pujian.

Mungkin dia mempunyai rasa percaya diri yang tinggi tapi sayang, dia hanya seekor anak tikus yang mempunyai segudang keluarga dan merekapun terus terjaga agar sang anak tikus tetap hidup dan tetap bisa di manfaatkan sebagai yang terlemah.

* untuk memperingati hari bumi*

-Darwo-

Tatanan Yang Ironi

Dia di mulai dari huruf A

Menjadi terbaik itu keunggulan  dia

Terkaya, terkuat dan tercerdik

Cukup dengan satu kata, dia bisa mendapatkan semua. Itu, itu dan itu.

Tapi sayang, itu hanya keinginan dia

Tidak mudah untuk mendapatkannya

Setiap orang, setiap kantor, setiap departemen dan setiap Negara menyanjungnya

Karena dengan dia lah, sebuah pemanis yang bisa menyesuaikan diri dengan airnya atau penambah rasa lainnya pada minuman atau makanan

Setiap orang ingin mendapatkannya, setiap orang berjuang mendapatkannya.

Hanya untuk sesuatu yang terbentuk pada tatanan hirarki yang mengada-ada

Dan apakah kebahagian bisa terbentuk jika harus lahir,sekolah, nikah, keluarga, tua dan mati

Terpatok hanya untuk mendapatkan dia

Apa itu?

Nilai A

-darwo-

2 Comments

Filed under Sastra Darwadism

Letters To The President (MLK DAY)

Leave a Comment

Filed under Pikiran Darwadi

Kenapa harus MELACUR?

Jalanan pada malam itu terasa dingin, entah karena suhu normal pada saat itu atau memang karena hujan yang cukup deras pada sore hari. Mobil dan lalu lintas jalan yang lalu lalang tidak pernah berhenti beraktifitas, mungkin ini sedikit dari denyut nadi kehidupan kota pada malam hari. Malam yang cerah membuat bunga jalan merekah layaknya bunga tulip yang sedang berkembang pada musimnya. Hembusan angin di malam itu tidak membuat bunga yang merekah itu tergoyang dan jatuh atau mungkin bertambah hidup ditemani sebotol bir dan alunan musik malam.

Tubuhnya tidak lagi seelok yang dulu, lekuk tubuhnya tidak lagi menjadi idaman sebagian pria tapi dari tatapan matanya bisa terbaca, MELACUR bukan tujuan dan jalan yang ingin aku jalani. Dia mungkin telah menjadi seorang ibu, dia mungkin telah menjadi seorang anak yang menanggung ekonomi keluarga, klise mungkin tapi inilah yang terjadi.

MELACUR bukan tujuan dan jalan yang ingin dia jalani, tapi kenyataan berkata lain. Ini bukan persoalan gaji atau upah yang di dapatkan, tapi ini realita yang harus dihadapi. Banyak jalan menuju Roma dan banyak jalan pula cara untuk mengarungi realita hidup.

Dahulu, dia dilahirkan seputih kertas. Polos, tidak bernoda. Namun pelan-pelan berubah menjadi racun dan rasa sesal, kenapa aku harus dilahirkan untuk menjadi PELACUR? Tatapan matanya bisa terbaca, aku bukan untuk ini, aku mempunyai cita-cita. Mungkin menjadi ibu dua anak dengan suami yang bisa membimbingnya mengarungi kehidupan. Mungkin menjadi guru yang menjadi tauladan murid-muridnya atau mungkin dan kemungkinan yang lain.

Tatapan matanya berkata, aku tersiksa, aku ingin pulang dan aku malu. Malu, mungkin kata yang tepat untuk semua perasaan dia sekarang. Dia seorang perempuan biasa yang HARUS melakukan ini, entah kebutuhan atau keterpaksaan dan MALU suatu penyakit yang dia harus sembuhkan tapi hati kecil dia berkata lain.

Dia mungkin mengetahui keberadaan R.A. Kartini, tokoh perempuan yang populer di negeri ini atau dia paham betul tentang “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Mencoba menghibur diri dengan bersabar dengan berkata “apakah aku harus meringkuk ketakutan untuk menanggung beban ini?”

Bandung, 3 maret 2010

6 Comments

Filed under Pikiran Darwadi

Malas

Malas

Malas, kata yang semua orang tahu akan maknanya

Malas, suatu kondisi saat orang merasa ingin terus dalam kenyamanan

Malas, dimana kata ini di kategorikan sebagai kata sifat yang negatif

Malas, menjadi budak daging yang bernama hati

Malas, menunda untuk melakukan sesuatu yang lebih berarti

Sepotong puisi (mungkin) menggambarkan arti dari kata malas

Siapa yang tidak mengetahui dengan arti malas dan maknanya, saat orang ingin terus dalam kondisi yang berbahaya yaitu kenyamanan dan kata ini menjadi kata sifat yang negatif dimana para guru pun saat kita duduk atau masih di bangku sekolah mengumandangkan untuk perang dengan sifat yang bernama malas. Suatu daging yang bernama hati berganti nama yaitu perasaan, dimana rasa malas ini tumbuh subur di hati yang nyaman. Dan menjadi akhir yang mengenaskan karena menunda untuk melakukan sesuatu yang lebih berarti.

1 Comment

Filed under Sastra Darwadism

Tulisan dan tulisan

Tulisan dan tulisan

Baru sedikit terbesit dengan bahasa yang di gunakan kebanyakan orang dalam penulisan. Dari ilmu yang penulis ketahui, ”pergunakanlah bahasa yang mudah di mengerti semua orang, pergunakanlah bahasa yang sederhana, jangan di tulis jika kau tidak tahu”

Ternyata cukup menyenangkan jika pembaca bisa mengerti apa yang kita tulis, apa yang kita tuangakan dari pikiran kita tapi terkadang ada beberapa hal yang tidak bisa di tuangkan secara langsung, demi ke-elegan-an tulisan itu sendiri, penulis rasa.ya itulah seni dari menulis.

Coba kita lihat Sartre, gaya bahasa yang dia gunakan tidak semua orang bisa mencernanya dengan baik. Penulis rasa itu salah satu cara untuk menjaga ke-elegan-an dari suatu pikiran. Toh muskipun susah untuk dimengerti Sartre di nobatkan sebagai Sang Eksistensialist.

Pengarang dari Perancis ini telah membuat penulis telah lama jatuh hati terhadap dunia tulis menulis, dimana pikirannya bisa berubah menjadi simbol-simbol yang di tafsirkan secara khas ala Sartre dalam sebuah cerita.

Mungkin dia bukan orang yang patut dicontoh dalam kehidupan sehari-harinya tapi banyak hal yang dia torehkan dengan tulisan dimana seseorang merupakan sesuatu yang kokoh jika dia berpendirian kuat demi ke-idealisme-annya.

Sarte mungkin sudah banyak yang mengetahui lebih dari pada penulis mengenai dirinya. Seorang pujangga besar dalam menjunjung tinggi pemikiran-pemikiran liar.

Jean-Paul Sartre

3 Comments

Filed under Pikiran Darwadi

Trilogi Transportasi

Trilogi Transportasi

Angkot Kalapa-Sukajadi

Perjalanan pulang kampung seperti layaknya mudik lebaran terasa saat pergantian tahun. Libur di kebanyakan tempat selama 4 hari membuat hati ingin kembali ke Surabaya. Membeli tiket kereta api di kala mendungnya Bandung tidak membuat semangat luntur untuk pulang kampung. Perjalanan angkot Kalapa-Sukajadi yang menjadi transportasi utama untuk menuju statsion kereta api dari arah Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung.

Turun dari angkot tepat di tempat zebra cross pertigaan jalan membuat penulis tidak perlu lagi berjalan menuju tempat penyeberangan itu. Ya itulah sedikit kelebihan dari transportasi umum kita tapi cerita tidak selesai disini. Menyeberang dengan sedikit susah karena lebarnya jalan dan tidak ada tombol untuk menjadikan lampu lalu lintas menjadi merah dan menjadi hijau untuk pejalan kaki walau disana terpasang lampu untuk pejalan kaki yang hendak menyeberang jalan. Dengan sedikit aba-aba dan berjalan cepat untuk keseberang jalan, akhirnya berhasil pula sampai di seberang jalan.

Kereta Mutiara Selatan

Alat transportasi yang satu ini membuat penulis sedikit bernostalgia. Dari sekian lama penulis meninggalkan Kereta Api di Indonesia dan akhirnya penulis merasakan kembali kenikmatan nostalgia. Masih segar diingatan, bagaimana dulu bisa bercengkrama di dalam gerbong dengan keluarga dan merasa mewah muskipun dulu telah ada kereta api eksekutif.

Perjalanan dengan menggunakan kereta api merupakan salah satu transportasi umum yang bisa dibilang aman jika kita bandingkan dengan bis dan pesawat. Dan kita tidak perlu ikut memikirkan apa yang terjadi di jalan.

Tapi pemikiran itu buyar sekitar pukul 02.15 saat meninggalkan Solo-Balapan, dalam kenikmatan setengah tidur terdengar teriakan ”maling” dari seorang ibu perempuan yang duduk di urutan pertama gerbong. Telah terjadi tindak kriminal di kereta yang sedang berjalan. Hal itu membuat panik seisi gerbong, hingga seorang bapak-bapak berbadan besar dari gerbong depan menghampiri ibu tersebut dan menanyakan kronologis kejadian, mungkin dia seorang polisi Kereta Api, oh bukan! Dia hanya penumpang yang hanya menanyakan layaknya seorang aparat keamanan di kereta api yang akan membereskan masalah ibu itu, ya mungkin itu rasa peduli dari kita, tapi suatu harapan kosong yang ada pada ibu itu. Tapi tak di sangka saat penulis keluar dari kamar kecil, sekitar 10 menit dari kejadian, para pamong telah berdiri tepat di hadapan ibu tadi dengan menanyakan seperti apa yang mungkin tadi di tanyakan oleh penumpang dari gerbong depan. Tak heran hal seperti ini terjadi, saat penulis di kala kecil dengan menumpang di kereta api mutiara selatan, saat singgah di setiap statsiun kereta api para pedagang di tidak bisa masuk untuk melakukan penawaran terhadap penumpang. Tapi sekarang tidak.

Begitu pula dengan keamanan dasar dari Kereta Api Mutiara Selatan, pintu gerbong! Pintu gerbong kereta tidak tertutup saat kereta berjalan. Mungkin petugas kereta api lupa untuk menutup pintu? Oh bukan! Pintu itu sengaja dibuka oleh crew kereta api dengan alasan agar lantai tempat antara gerbong kering. Lalu bagaimana pihak kereta api mau meminimalalisir tindak kriminal di atas kereta api jika crew-nya sendiri sengaja membuka pintu gerbong kereta api.

Angkot H-4

Kendaraan umum yang  jadul. Penulis bisa merasakan masa-masa SMP saat pulang dari sekolah dengan menumpang angkot tersebut. Nostalgia mungkin bagus jika itu ditempat-tempat yang penuh memori dan kita bisa mengenangnya tapi rasanya kurang pas jika bernostalgia ria dengan menggunakan kendaraan umum yang jadul.

Sepengetahuan penulis, kendaraan memiliki usia layaknya benda yang bisa angus suatu saat nanti. Muskipun dengan adanya peremajaan kendaraan, entah itu di bagian yang mana, tapi rasanya jika kendaraan lawas terus di gunakan banyak efek yang ditimbulkan, mungkin dari emisi gas buang yang di hasilkan, keamanan dan juga image kota tersebut.

Kota modern dengan berisi kendaraan umum berusia tua memang bukan suatu hal yang penting untuk di bicarakan tapi jika berpandangan mempercantik kota meliputi kendaraan umumnya, mungkin akan lebih terasa nyaman bagi penduduk kota tersebut untuk memilih kendaraan umum daripada menggunakan kendaraan pribadi.

Trilogi transportasi mungkin sedikit contoh dinamika kehidupan kendaraan umum yang terjadi di Indonesia, di jawa tepatnya.

Halte yang tidak digunakan, tindak kriminal di atas kendaraan umum dan kendaraan lawas yang terus digunakan hingga sekarang merupakan contoh real yang penulis alami.

Anda ingin membangun Indonesia?

7 Comments

Filed under Pikiran Darwadi

Reality show : Pembodohan publik?

Reality show : Pembodohan publik?

Tidak sengaja membaca thread di forum-forum indonesia yang membahas tentang perkembangan media terutama televisi di indonesia dan menyamakan dengan apa yang penulis alami saat menonton televisi.Terbesit betapa mirisnya media yang sedang berkembang sekarang ini di indonesia.

Seperti jamur di kala musim penghujan. Reality show,  suatu program investigatif yang menguak akan sesuatu kenyataan entah itu persoalan perselingkuhan pacar, keluarga, jodoh sampai rumah semakin banyak di tayangkan. Untuk kali pertama yang  menonton reality show mungkin akan terkesima seperti yang penulis dulu rasakan, betapa positifnya jika media di gunakan untuk menyadarkan dan berbagi terhadap sesama.

Ide adanya reality show merupakan suatu ide yang brilian dimana orang bisa menjadi lebih paham akan kehidupan dengan contoh-contoh langsung yang di tayangkan, tapi dengan keranjingannya televisi sebagai media seolah-olah di atas angin akan membludaknya rating reality show yang bisa ditandakan semakin banyaknya tayangan tersebut di berbagai media televisi.

Bak sinetron atau opera sabun, penayangan reality show semakin lama semakin terlihat keluar dari jalur yang ada yaitu menggunakan tokoh-tokoh fiktif atau adegan rekayasa dll, seperti apa yang dulu penulis pernah tonton, suatu adegan dimana mobil seolah-olah tertabrak. Di dalam adegan itu, jelas menunjukan ”aktor dan aktris”nya mengalami luka yang cukup serius hingga mengalami pendarahan yang cukup parah di daerah muka, yang berarti mobil pada saat itu mengalami hantaman yang cukup dahsyat. Suara tepukan tangan saat membunuh nyamukpun bisa memecah keheningan malam, lalu bagaimana dengan suara yang dihasilkan dari tabrakan yang dahsyat tersebut, yang membuat sang ”aktor dan aktris” terluka parah? Dan dimana masyarakat sekitar? Walaupun itu terjadi di dalam komplek rumah orang-orang kayapun, penulis yakin akan ada keluar yang melihat pada saat itu, tapi yang penulis tonton, lalu kenapa terlihat biasa-biasa saja?

Penonton menerima jadi semua isi tayangan tersebut (taken for granted) dan merasa terhibur dengan adanya reality show suatu point tersendiri untuk televisi, tapi apakah bisa mendidik penonton dengan cara membuat cerita fiktif , adegan rekayasa dll?

(terbuka untuk diskusi)

salam

2 Comments

Filed under Pikiran Darwadi