Dia seorang pahlawan, dia seorang penggagas, dia seorang creator dan dia seorang idealist
Jasa dia torehkan di secarik kertas baja dengan tinta emas
Dunia membuat dia mejadi seorang yang patut dipuji, patut dihormati, patut sanjung dan semua kepatutan yang sangat terhormat berada dipundaknya dan dadanya.
Seperti kebanyakan, dia terlahir dari sebuah keluarga yang sederhana, harmonis dan bahagia.
Tapi perang telah merubahnya menjadi mimpi buruk.
Perang tak selalu pertempuran fisik atara aggressor dan yang tertindas
Perang tak selalu menjadi medan pamer para “prajurit” sejati
Perang tak selalu membuat susah atau tertindas dan perang pun tak selalu menyenangkan
Jika dunia ini bisa merubah penjumlahan, 1 + 1 = -43
Jika dunia ini bisa merubah pengurangan, 1 – 1 = 47
Dan perangpun dapat dihindari.
Mengenang para pahlawan adalah suatu tindakan bodoh dimana terdapat propaganda Negara untuk menciptakan lagi “prajurit-prajurit” muda yang lebih tangguh, lebih kuat dan lebih arogan.
Dengan mengenang pahlawan, kita menjadi budak sejarah dimana dulu kita pernah tertindas dan pernah menderita.
Untuk apa?
Untuk mencegah kembali kejadian-kejadian yang tidak mengenakan tersebut.
Untuk menjadi lahan pamer bahwa aku kuat.
Atau untuk menjadi ladang uang.
Sejarah merupakan sebuah identitas bangsa yang jangan pernah hilang
Tapi sejarah itu sendirilah yang merubah identitas bangsa itu sendiri
Lalu, untuk apa membaca buku sejarah. Lalu, untuk apa memahami sejarah. Lalu, untuk apa sejarah?
Sejarah tidak ubahnya sebuah tulisan yang tertulis di setiap segulung tisu toilet, cukup sekali lihat, tarik, sobek, lipat dan siap untuk membersihkan kotoran.
Sejarah adalah tisu toilet yang bagus untuk membersihkan kotoran, dengan sejarah kita bisa bisa hidup lebih bersih untuk kedepannya. Dengan sejarah kita bisa mengerti bahwa air jauh lebih bersih dalam membersihkan kotoran : pengetahuan dan pendidikan.
Kita dulu bangsa yang tertindas karena pengetahuan, dulu kita bangsa yang bodoh. Dan budaya itu tetap abadi dan mengalir pada darah kita. Kita tetap bangsa yang bodoh.
Kesenjangan sosial berawal dari pengetahuan dan pendidikan. Ketimpangan yang ada berawal pengetahuan dan pendidikan. Dan oleh pengetahuan dan pendidikan lah kita penuh dengan kesenjangan dan ketimpangan.
Hanya kaum bangsawanlah yang dulu bisa mengeyam bangku sekolah dan itulah pengetahuan dan pendidikan yang ada sekarang : Hanya kaum yang beradalah yang bisa mengeyam bangku sekolah.
Dan sekarang hanya kepada pahlawanlah kita bisa bertanya, apa yang telah kau kasih pada Negara?
Dan sekarang hanya kepada pahlawanlah kita bisa bertanya, apa yang telah Negara kasih padamu?
Apakah cukup jasamu dibayar dengan hormat dan lagu Indonesia Raya?
Apakah cukup jasamu dibayar dengan ucapan, terima kasih?
Apakah cukup jasamu dibayar dengan cara mendengarkan kisah perjuangan tempo dulu?
Apakah cukup jasamu dibayar dengan reuni bersama?
Dan dengan siapa kita sekarang berperang, jika perdamaian sudah tercipta.
Ekonomi, sosial, budaya and many more
Krisis, ladang yang memaksa kita untuk berpikir untuk dapat bertahan hidup
Bagaimana aku bisa bertahan di tengah rimba perdamaian
Semua tertata dengan alur dan teknis yang telah di pikirkan dengan matang-matang
Apa keuntungan dan kerugiannya. Dan disitulah kita menajadi konsumen sejati
Konsumen post-modernist yang selalu terdepan dalam inovasi
Menjadi berbeda adalah sebuah tuntutan agar dapat diterima oleh khalayak
Terdepan dalam segala hal, mudah dalam mendapatkan segala hal dan senyum untuk mendapatkan semuanya
Mendapat penghargaan berupa yang ter-
Terkotak dengan kebutuhan yang bernama ekonomi
Untuk mengenang para pahlawan : dengan siapa kita berperang?
Dan pahlawanpun menjawab, pertanyaan klise
-Darwo-