Pengantin Perempuan (Part III )
-Kenikmatan-
Entah dia mau mulai dari mana untuk mengatakannya, bahwa apa yang dipikirkannya saat di dapur sedikit mempengaruhi dirinya. Banyak keinginan-keinginan dia yang ingin dia lakukan untuk saat ini.
- “Rasanya ini bukan hidup aku”, ucapnya lirih.
Terus dalam pikiran kosongnya, dia mencoba membayangkan dirinya saat ini menjadi seorang wanita karier yang mempunyai janji bersama teman-temannya untuk keluar malam ini. Dengan seyum yang dia kembangkan, mencoba memeluk kembali dan mencium laki-laki yang sekarang menjadi suaminya itu. Pagi yang cukup cerah untuk memulai sesuatu yang baru. Tapi tidak untuk sang pengantin perempuan.
Sang lelaki ini terbangun dari tidurnya, terbangun karena teriakan keras dari suara adzan subuh yang tidak jauh dari rumahnya. Gang itu terlihat padat walaupun aktifitas belum seluruhnya dimulai. Sang istri dan anak perempuannya yang masih terlelap membuat dia ingin beranjak bekerja. Walaupun hanya sebagai kuli bangunan tapi dia masih merasakan kehidupan dulunya yang penuh dengan keberadaan. Dengan sedikit pengintip, dia menintip dari jendelanya yang penuh dengan debu. Matahari masih belum tiba !
Dia masih termenung dan menikmati kesunyian sementara dari jendela itu. Gang kecil yang masih kosong. Kesunyian itu bagaikan kesunyian yang membuat dia merasa menikmati hidup. Dia merasakan diri sejatinya saat itu, ketenangan jiwa yang menjadi motivasinya untuk bertahan hidup. Hanya dia. Menjadi seorang dewa walaupun itu hanya beberapa menit.
Berjalan kecil dengan handuk berwarna abu-abu kekuningan menuju kamar mandi yang menjadi milik semua orang. Udara dingin yang dia rasakan membuatnya sedikit malas untuk membersihkan diri, teringat masa kecilnya yang bisa dikatakan ada.
Menjadi kuli bangunan bukanlah keinginan dia, ini hanya sepenggal ceritanya, dia mengetahuinya jika masa-masa ini adalah masa-masa indah yang tidak semua orang bisa merasakan.
Air pun telah membasahi seluruh tubuhnya, dia merasakan kesegaran yang membuatnya ingin lagi dan lagi di basahin oleh air dingin itu. Hembusan udara pagi menyentuh kulit kecoklatannya yang membuatnya ingin meminum seluruh air itu. Kehausan yang amat sangat akan kenikmatan. Tapi dia menyadari, inilah kenikmatan kedua itu.
Kiai ini telah merasakan kenikmatan, sholat subuh berjamaah yang dia imami membuatnya menjadi tenang dan merasa berdosa telah berpikiran apa yang ia pikirkan tadi. Setiap lafal Tuhan ia sebutkan dalam hatinya, entah itu saat berdiam diri ataupun sedang membersihkan bagian-bagian suci masjid. Terus dan terus dia lafalkan, menikmati keindahan memujaNya.
Duha menjadi kebutuhan keduanya setelah sholat di awal sebuah hari. Setiap kata-kata yang keluar menjadi sebuah kenikmatan yang membuatnya ingin terus menjadi seorang yang beriman. Seorang yang memang berasal dari keluarga yang taat beragama dan berhasil menjadi penerus keluarga yang membanggakan.
Tidak ada orang yang tidak mengenal dia. Keimanannya menjadi dia sangat dikenal dan dihormati masyarakat sekitar, salah satu tokoh masyarakat yang disegani setelah ketua RT.
Langkah cepat dia untuk memakan sedikit hidangan pagi yang sudah dingin, sisa tadi malam. Dia benar-benar menjaga agar semua tidak terbuang dengan percuma. Memasakan kembali makanan itu dengan kompor listrik kecil hasil infaq masjid. Merasakan cukup panas dan lezat dia hentikan kegiatan itu. Tapi bukan itu yang dia inginkan, hanya sekedar membuang listrik percuma.
-”Duh, ini bukan makanan namanya”, ucapnya kesal.
Membuka warung kopinya di pagi hari adalah rutinitas sehari-hari. Menyapu bagian warung yang sedikit kotor agar pembeli bisa nyaman dan betah saat membeli di warungnya. Perempuan telaten yang telah menyambung usaha keluarganya sekitar 10 tahun yang lalu. Menjadi pedagang warung merupakan warisan keluarga yang dia anggap cukup membanggakan. Mengemban amanat orang tua dan menjadi pemuas pembeli. Warungnya bagaikan mall bagi orang-orang sekitarnya, keberadaannya yang lama cukup membuat warung ini dikenal di daerah itu. Istana kecil bagi mereka.
Setiap daganngan yang ingin dia jual telah dia siapkan di tempatnya. Dia telah mengerti betul mekanisme dalam mengatur kebutuhan warungnya. Dia bukan dari orang yang berpendidikan tinggi tapi pengalaman membuatnya seperti ini. Pengaturan sistem yang rapi tanpa adanya latar belakang pendidikan.
Cita-cita pedagang warung ini ingin menjadi seorang penata rias di kampung sebelah. Tapi tangannya hanya cukup terampil dalam membuat kopi dan minuman lainnya. Dia usia yang cukup ada sekarang, dia memahami betul apa arti dari ceritanya. Kenikmatan yang dia rasakan saat membuat kopi dan melayani pembeli itu tidak terbatas. Pedagang warung ini cukup beruntung, berada di kawasan yang tidak terjamah oleh petugas penertiban. Dan wilayah dimana semua orang membutuhkan tempat yang layak pada malam hari untuk sekedar melepas lelah dan bercengkrama dengan sesama manusia.
Pedagang warung ini cukup mengenal siapa-siapa yang rajin bertandang ke warungnya. Dan mengetahui setiap pemilik motor yang melewati warungnya. Warung ini bagaikan sebuah pos dimana semua orang harus lapor setiap malam.
Masih terlelep di kelelahan bersama alkohol dan perempuan malam. Suara gelas yang terjatuh menghancurkan keheningan di tengah kekacauan. Puntung rokok yang mati oleh angin membuat asbak putih itu kekuning-kuningan dan terhempas oleh tangan laki-laki yang menghabiskan malamnya dengan kenikmatan itu.
Tetesan dan bekas air mani pun masih menempel di kasur tapi dia hanya tertunduk dan melihat sekeliling. Membuka hordeng jendela dan menggaruk selangkangan merupakan kenikmatan yang dia rasakan saat semua itu telah berlalu, merasakan puas dan lega bahwa dia bisa melakukannya. Tidak sia-sia dia mencari uang, kenikmatan itu dia ganti dengan alkohol, teman-teman dan perempuan malam.
Sebatang rokok yang tersisa masih tertinggal di sudut kamar yang kacau. Hisapnya dia dalam-dalam, dan berbaring bersandarkan kursi rotan di belakang rumah kontraknnya. Teman-temanya telah kembali dipertigaan kehidupan. Dia tetap menikmati kenikmatan hari di kursi rotan.
-”Anjing, sumpah enak banget…”, katanya tegas.
Seolah hari itu bagaikan hari teristimewa baginya. Hari yang selalu terulang setiap dia memiliki uang yang pas untuk mendapatkan kenikmatan dengan harga yang memuaskan.
Bayangan seronok yang terlintas didepannya saat melihat perempuan manapun yang melewati kontrakannya. Kepuasaan dan kenikmatan yang abadi untuknya.
Sang pengantin perempuan beranjak untuk bergegas mandi, membersihkan diri dan bersiap untuk mengunjungi sang orang tua. Malam pertama yang tidak berkesan baginya.
Tapi dalam mandinya, dia merasakan kesejatian alami dari suaminya. Rasa kasih sayangnya yang tinggi dan kecintaan terhadap dirinya tidak sedikitpun berkurang. Perhatian yang tercurah sama seperti saat pertama kali mereka berpacaran.
Malam pertama bukan harga mati yang dia nilai, tapi kesungguhan pasangannya dalam mengarungi rumah tangga yang dia harapkan.
(bersambung)