November 25, 2009

Pengantin Perempuan (Part III )

Pengantin Perempuan (Part III )

-Kenikmatan-

Entah dia mau mulai dari mana untuk mengatakannya, bahwa apa yang dipikirkannya saat di dapur sedikit mempengaruhi dirinya. Banyak keinginan-keinginan dia yang ingin dia lakukan untuk saat ini.

-         “Rasanya ini bukan hidup aku”, ucapnya lirih.

Terus dalam pikiran kosongnya, dia mencoba membayangkan dirinya saat ini menjadi seorang wanita karier yang mempunyai janji bersama teman-temannya untuk keluar malam ini. Dengan seyum yang dia kembangkan, mencoba memeluk kembali dan mencium laki-laki yang sekarang menjadi suaminya itu. Pagi yang cukup cerah untuk memulai sesuatu yang baru. Tapi tidak untuk sang pengantin perempuan.

Sang lelaki ini terbangun dari tidurnya, terbangun karena teriakan keras dari suara adzan subuh yang tidak jauh dari rumahnya. Gang itu terlihat padat walaupun aktifitas belum seluruhnya dimulai. Sang istri dan anak perempuannya yang masih terlelap membuat dia ingin beranjak bekerja. Walaupun hanya sebagai kuli bangunan tapi dia masih merasakan kehidupan dulunya yang penuh dengan keberadaan. Dengan sedikit pengintip, dia menintip dari jendelanya yang penuh dengan debu. Matahari masih belum tiba !

Dia masih termenung dan menikmati kesunyian sementara dari jendela itu. Gang kecil yang masih kosong. Kesunyian itu bagaikan kesunyian yang membuat dia merasa menikmati hidup. Dia merasakan diri sejatinya saat itu, ketenangan jiwa yang menjadi motivasinya untuk bertahan hidup. Hanya dia. Menjadi seorang dewa walaupun itu hanya beberapa menit.

Berjalan kecil dengan handuk berwarna abu-abu kekuningan menuju kamar mandi yang menjadi milik semua orang. Udara dingin yang dia rasakan membuatnya sedikit malas untuk membersihkan diri, teringat masa kecilnya yang bisa dikatakan ada.

Menjadi kuli bangunan bukanlah keinginan dia, ini hanya sepenggal ceritanya, dia mengetahuinya jika masa-masa ini adalah masa-masa indah yang tidak semua orang bisa merasakan.

Air pun telah membasahi seluruh tubuhnya, dia merasakan kesegaran yang membuatnya ingin lagi dan lagi di basahin oleh air dingin itu. Hembusan udara pagi menyentuh kulit kecoklatannya yang membuatnya ingin meminum seluruh air itu. Kehausan yang amat sangat akan kenikmatan. Tapi dia menyadari, inilah kenikmatan kedua itu.

Kiai ini telah merasakan kenikmatan, sholat subuh berjamaah yang dia imami membuatnya menjadi tenang dan merasa berdosa telah berpikiran apa yang ia pikirkan tadi. Setiap lafal Tuhan ia sebutkan dalam hatinya, entah itu saat berdiam diri ataupun sedang membersihkan bagian-bagian suci masjid. Terus dan terus dia lafalkan, menikmati keindahan memujaNya.

Duha menjadi kebutuhan keduanya setelah sholat di awal sebuah hari. Setiap kata-kata yang keluar menjadi sebuah kenikmatan yang membuatnya ingin terus menjadi seorang yang beriman. Seorang yang memang berasal dari keluarga yang taat beragama dan berhasil menjadi penerus keluarga yang membanggakan.

Tidak ada orang yang tidak mengenal dia. Keimanannya menjadi dia sangat dikenal dan dihormati masyarakat sekitar, salah satu tokoh masyarakat yang disegani setelah ketua RT.

Langkah cepat dia untuk memakan sedikit hidangan pagi yang sudah dingin, sisa tadi malam. Dia benar-benar menjaga agar semua tidak terbuang dengan percuma. Memasakan kembali makanan itu dengan kompor listrik kecil hasil infaq masjid. Merasakan cukup panas dan lezat dia hentikan kegiatan itu. Tapi bukan itu yang dia inginkan, hanya sekedar membuang listrik percuma.

-”Duh, ini bukan makanan namanya”, ucapnya kesal.

Membuka warung kopinya di pagi hari adalah rutinitas sehari-hari. Menyapu bagian warung yang sedikit kotor agar pembeli bisa nyaman dan betah saat membeli di warungnya. Perempuan telaten yang telah menyambung usaha keluarganya sekitar 10 tahun yang lalu. Menjadi pedagang warung merupakan warisan keluarga yang dia anggap cukup membanggakan. Mengemban amanat orang tua dan menjadi pemuas pembeli. Warungnya bagaikan mall bagi orang-orang sekitarnya, keberadaannya yang lama cukup membuat warung ini dikenal di daerah itu. Istana kecil bagi mereka.

Setiap daganngan yang ingin dia jual telah dia siapkan di tempatnya. Dia telah mengerti betul mekanisme dalam mengatur kebutuhan warungnya. Dia bukan dari orang yang berpendidikan tinggi tapi pengalaman membuatnya seperti ini. Pengaturan sistem yang rapi tanpa adanya latar belakang pendidikan.

Cita-cita pedagang warung ini ingin menjadi seorang penata rias di kampung sebelah. Tapi tangannya hanya cukup terampil dalam membuat kopi dan minuman lainnya. Dia usia yang cukup ada sekarang, dia memahami betul apa arti dari ceritanya. Kenikmatan yang dia rasakan saat membuat kopi dan melayani pembeli itu tidak terbatas. Pedagang warung ini cukup beruntung, berada di kawasan yang tidak terjamah oleh petugas penertiban. Dan wilayah dimana semua orang membutuhkan tempat yang layak pada malam hari untuk sekedar melepas lelah dan bercengkrama dengan sesama manusia.

Pedagang warung ini cukup mengenal siapa-siapa yang rajin bertandang ke warungnya. Dan mengetahui setiap pemilik motor yang melewati warungnya. Warung ini bagaikan sebuah pos dimana semua orang harus lapor setiap malam.

Masih terlelep di kelelahan bersama alkohol dan perempuan malam. Suara gelas yang terjatuh menghancurkan keheningan di tengah kekacauan. Puntung rokok yang mati oleh angin membuat asbak putih itu kekuning-kuningan dan terhempas oleh tangan laki-laki yang menghabiskan malamnya dengan kenikmatan itu.

Tetesan dan bekas air mani pun masih menempel di kasur tapi dia hanya tertunduk dan melihat sekeliling. Membuka hordeng jendela dan menggaruk selangkangan merupakan kenikmatan yang dia rasakan saat semua itu telah berlalu, merasakan puas dan lega bahwa dia bisa melakukannya. Tidak sia-sia dia mencari uang, kenikmatan itu dia ganti dengan alkohol, teman-teman dan perempuan malam.

Sebatang rokok yang tersisa masih tertinggal di sudut kamar yang kacau. Hisapnya dia dalam-dalam, dan berbaring bersandarkan kursi rotan di belakang rumah kontraknnya. Teman-temanya telah kembali dipertigaan kehidupan. Dia tetap menikmati kenikmatan hari di kursi rotan.

-”Anjing, sumpah enak banget…”, katanya tegas.

Seolah hari itu bagaikan hari teristimewa baginya. Hari yang selalu terulang setiap dia memiliki uang yang pas untuk mendapatkan kenikmatan dengan harga yang memuaskan.

Bayangan seronok yang terlintas didepannya saat melihat perempuan manapun yang melewati kontrakannya. Kepuasaan dan kenikmatan yang abadi untuknya.

Sang pengantin perempuan beranjak untuk bergegas mandi, membersihkan diri dan bersiap untuk mengunjungi sang orang tua. Malam pertama yang tidak berkesan baginya.

Tapi dalam mandinya, dia merasakan kesejatian alami dari suaminya. Rasa kasih sayangnya yang tinggi dan kecintaan terhadap dirinya tidak sedikitpun berkurang. Perhatian yang tercurah sama seperti saat pertama kali mereka berpacaran.

Malam pertama bukan harga mati yang dia nilai, tapi kesungguhan pasangannya dalam mengarungi rumah tangga yang dia harapkan.

(bersambung)

August 9, 2009

Sebuah perjalanan : dinding kenanga

Sebuah perjalanan : dinding kenanga

Banyak hal yang terlewati, hadir dan pergi. Dia bukan hanya bagian dari cerita semata. Dia hanya bagian warna kehidupan yang bisa mewarnai keberadaan seseorang, bagai ucapan sang esksistensialist !

Sentuhan angin membuat hiasan dinding kenanga terurai datang dan pergi walau hanya sebagai pewarna bukan penghias.

Esok hari di hari yang masih pagi, masih banyak debu yang menempel, di bersihkan dan tersapu oleh air.

Warna merah di dinding kenanga mengandung arti lain dari hatinya, entah riang atau terbuang.

Tapi penulis mulai sadar, bahwa dia yang dulu… dulu… dulu…  penulis inginkan, tapi ah, ini hanya cerita lama sudah berapa lama dia seperti itu, sudah berapa lama penulis seperti itu.

Bohong kalo hanya dia yang dulu… dulu… dulu… penulis ingini.

Berapa kali dinding kenanga berwarna

Berapa kali debu menempel dan tersapu air

Berapa kali dia hanya berdiri dan menikmati dinding kenanga

Dia yang membuat perias bukan penghias, seperti sekarang ini, dinding kenanga.

Hingga saatnya nanti dia harus mengetahui, dinding kenanga, hanya dinding kenanga.

Moskow, 08.08.09

Viznakovo

April 28, 2009

Dunia aksetis

Dunia aksetis

Hanya dari dua kata, dunia aksetis. Bisa menggambarkan kemelut hati sekaligus tulisannya yang bersifat killing the time before I sleep.

 

Sebuah nama yaitu mahasiswa atau lebih luas dan bebas lagi yaitu pemuda. Dimana saat-saat yang pas untuk menikmati imajinasinya dengan pikiran dan ide-ide yang liar. Penciptaan sebuah karya baru yang bernama ide terlahir dari pemikiran kontras dan melawan arus. Menjadi aneh dan bersifat sakit mental. Entah untuk mendapatkan ego, hasrat atau malah termakan superego. Mungkin kata yang pas dan disinilah kebebasan berpikir dan berbicara dari penulis. Lucu jika memang hingga saat ini masih manja dan termakan arus liar superego. Sakit !

 

Langkah demi langkah sudah kita lewati hingga menjadi orang yang “besar”sampai saat ini. Bangga menjadi dirinya dan bangga jika aku menjadi “mutant” di antara yang lain. Menjadi aneh, liar, buas, di takuti, di segani bak seekor ular ganas dengan racun yang mematikan dalam sekejap. Tidak melihat seberapa besar tubuh sang korban dia akan mengejar demi hobinya yang cukup ganas. Membunuh !

 

Dia terlalu terobsesi buat mendapatkan yang bernama status. Status yang ter-ganas, ter-liar, dan manja oleh dirinya yang sakit oleh hobinya yang selalu membunuh. Dia terus mengejar apa yang namanya eksistensi. Pengembangan diri-pun terus dia lakukan untuk mendapatkan “nirwana”, tempat tertinggi dari yang tertinggi. Demi satu kata, tersempurna. Dimana tidak ada lagi langit di atas langit, dimana tidak ada lagi batas yang bisa menlebihinya. Disinilah aku, aku ada !

 

Semut hitam tetap menjadi barisan yang teratur dan tertata rapi. Mereka tahu kemana mereka akan bergerak, mereka tahu akan eksistensi sejati dan mereka tahu apa yang bernama ter-eksis. Cukup penyatuan “hati” dalam sinergi yang bersama demi kepentingan bersama yang dinamakan hidup. Mungkin penulis salah dalam pengartian ini.

 

Tidak cukup sampai disitu perjalanan kisah kita. Masih cukup panjang untuk mencapai “nirwana”. Kita butuh ruang. Ruang yang tidak bisa di ganggu gugat oleh siapapun bak ruang konsentrasi sebelum kita di hukum mati dengan gas ego, hasrat maupun superego. Pertama kita akan lemas, tak berdaya, lalu tertawa dan menangis, berteriak dan menjadi arogan di dalam kotak yang bernama pendidikan. Tapi perlahan kita menyadari eksistensi kita kebebasan dalam menentukan pilihan, hidup atau mati gantung diri. Mengenaskan !

 

Penulis hanya bermain dalam imajinasi, sakit dalam pilihan, berteriak dalam ruang bebas karena penulis tidak ter-manja diantara ego, hasrat atau superego, atau penulis bukan ter-eksis yang idealis yang tertata dan mengerti dengan penyatuan “hati” dalam sinergi yang bersama demi kepentingan bersama yang dinamakan hidup. Dia bukan sistem yang bisa ditundukan ataupun menundukan. Dia bukan pencontoh dan yang patut dicontoh, dia bukan tidak terjadi dan tidak menjadi. Dia bukan tuhan dan bukan yang di tuhankan.

 

Dunia aksetis !!!

 

Dikamar 811

Jalan Xolzunova 40a asrama no 7

Tanggal 28 April 2008

 

Darwadism

April 17, 2009

Pintu

Pintu

Hidup adalah perjuangan (dewa)

Terserah bentuknya seperti apa, terserah tempatnya seperti apa, terserah pandangan orang seperti apa. Pintu, terserah bagi setiap orang memikiran apa itu pintu, tapi dia akan menjadi pemisah antara dunia satu dengan dunia lainya. Terkadang kita tidak menyadari akan arti sebuah pintu. Dia akan selalu berada di tengah-tengah kita dan apakah kita bisa melewati lorong yang dilengkapi sebuah alat yang namanya pintu. Tidak butuh banyak tenaga untuk melewati sebuah pintu dan tidak pula semudah yang kita bayangkan untuk melewati sebuah pintu. Terlihat hiperbola, tapi coba pikirkan lagi, apakah arti pintu bagi kita.
Kebenaran yang alami sudah kita sepakati, pintu adalah sebuah alat untuk menutup atau membuka pemisah yang ada. Tapi adakah sebuah pintu yang bisa berkompromi dengan kita, adakah pintu yang mengerti kita.

Ada saatnya pintu itu kita buka dan ada saatnya pintu itu kita tutup. Tentunya pintu hanya alat, pelindung sejati adalah diri kita, dan apakah kita menyadari akan keberadaan pintu di diri kita. Dia akan semakin kokoh jika terbuat dari bahan yang kokoh pula, entah itu dari pohon jati atau baja sekali pun, tapi apakah kita mampu membuatnya dengan yang kokoh tersebut. Semakin kokoh semakin berat pula biaya pembelian, pembuatan, dan perawatan. Dan bagi kita yang memilih dari bahan yang rapuh, cukup dengan bahan dasar triplek dan rangka kayu biasa sudah akan menjadi sebuah alat yang namanya pintu.

Dia akan bersifat fleksibel jika kita pasang dengan engsel yang bisa dibuka dari depan maupun dari belakang alias dua arah begitu pula sebaliknya, dia akan bersifat kaku jika kita pasang engsel yang hanya mampu terbuka dari satu arah. Kita akan mudah kecolongan jika pintu dengan gampangnya terbuka dan kita pun akan terlihat kuno jika pintu hanya bisa terbuka oleh arah yang sama. Tergantung kita, engsel yang bagaimana yang kita ingin pasang dan apakah arti sebuah pintu yang cocok bagi kita, hanya kita yang mampu menjawab.

Kunci, ada saatnya kita mengunci pintu kita, saat kita lengah dalam kegelapan malam ataupun lengah pada kesibukan yang lain. Disni akan timbul kembali pertanyaan, sekuat apakah kunci yang kita punya, berkode atau hanya gembok sepeda ala mr.Bean. Kunci akan menjadi ujung tanduk dalam mempertahankan ke-kokoh-an pintu. Bagaimanapun, jika kunci pada pintu tetap pada tempatnya dan pintu sudah terkoyak berarti sebuah paksaan yang amat sangat sehingga pintu bisa terkoyak. Tergantung kunci yang bagaimana yang ingin kita pasang dan apakah arti sebuah pintu yang cocok bagi kita, hanya kita yang mampu menjawab.

Dia akan kita buka atau tutup saat kita sentuh dan gerakan gagang pintu ke arah kemana pintu itu terbuka atau tertutup. Terserah bagi kita gagang pintu yang seperti apa yang akan kita pasang, terbuat seperti apakah gagang pintu yang akan kita pasang, dan yang paling terpenting adalah, pas atau tidak gagang pintu itu di tangan kita. Mungkin ini bukan segalanya tapi akan terlihat konyol sebuah pintu tanpa gagang pintu. Dan kita menjadi budak pintu, hanya penjadi penunggu sejati sebuah pintu dan tidak mempunyai kebebasan karena hal yang sepele, gagang pintu.

Dia akan menjadi sebuah penengah dalam sebuah rumah, mobil, ruang kantor. Pemisah antara baik-buruk, bagus-jelek, suka-duka, kotor-bersih dan semua yang bertolak belakang. Saat diri kita terhimpit atau diri kita sedang dalam keadaan diatas angin, apakah kita masih peduli dengan diri kita, lingkuangan kita dan semesta kita dan apakah kita masih menyadari akan kehadiran pintu. Pintu bukan hanya sebagai pemisah atau penjaga tapi lebih dari itu. Kita bisa menambahkan tulisan atau pernak-pernik di pintu sebagai hiasan, sebagai penghibur dan sebagai refleksi.

Banyaknya fenomena tentang pintu. Terlihat kokoh dari luar ternyata dia tidak lebih dari kapas. Mudah terhempas angin. Adapula terlihat rapuh tapi dia bisa lebih dari baja sekalipun. Usia bukan segalanya tapi tangan yang bagaimana yang membuat dia..

Seperti halnya makanan, pintupun memiliki rasa. Dan rasakan rasa itu saat pintu itu telah tercampur dengan makanan yang lain. Apakah cocok atau malah menjadi tidak karuan dan hilang rasa aslinya. Tergantung apakah takarannya cukup dalam penambahan bumbu atau malah berlebihan. Kita yang akan rasakan sendiri. Saat semua sudah siap dihidangakn, siapkah rasa yang kita punya disajikan dengan rasa yang lain. Dan apakah takaran rasa yang kita punya akan pas dengan rasa pintu yang lain. Akan terasa mual atau malah menjadi rasa yang cocok bagi kita jika kita pas dalam penakarannya.

Pintu, pintu, pintu ! Sayang, hanya sebagian orang yang sadar akan kehadiranya. Sayang, hanya sebagian orang yang mampu merawatnya. Sayang, hanya sebagian orang yang memperhatikan elemen-elemen dari pintu. Dia seakan-akan hanya bagaian dari kehidupan yang akan bekerja saat kita terhimpit ataupun ditinggalkan dan pada saat itu doa-pun terlantun bak hajatan besar sedang dilaksanakan. Konyol, lucu dan tidak tahu diri. Dia akan menjadi kokoh seketika dan menjadi rapuh seketika. Pintu dari hasil tangan yang penuh noda.

Nyanyian alam akan kembali hadir saat kita harus melewati pintu. Bisakah kita melewati pintu yang sudah kita buat dengan susah payah atau sebaliknya, menjadi mudah. Saat kita melukis dan menorehkan peta pintu yang hendak kita buat. Disitulah kita, sadar atau tidak, kita mempunyai pintu. Secara sadar maupun tidak sadar, kita bisa melihat pintu lain. Dan pintu itulah yang menjaga kita, apakah kita mau menjiplak pintu lain tapi tidak pas dengan kita. Semoga pintu kita menjadi pintu yang pas bagi kita.

March 25, 2009

Media : taken for granted

Media : taken for granted

 

Who controls the past now controls the future
Who controls the present now controls the past
Who controls the past now controls the future
Who controls the present now?

 (rage against the machine)

 Sebelumnya penulis ingin mengenalkan rage against the machine, nama itu merupakan nama sebuah grup musik di amerika yang mengambil inspirasi dari zapasttista di beberapa lagunya. 

Dari “pergerakan” hegemoni yang di coba dilakukan oleh rage against the machine (RATM), mungkin sudah mengenai kaum muda yang pada khususnya dikalangan yang memahami tentang politik, filosofi dan ketidakadilan.

“Taktik” dalam penggunaan metode ini sudah sangatlah jelas, untuk siapa karya mereka ditujukan, untuk apa karya mereka ditujukan dan bagaimana karya mereka ditujukan.

Isi dari kebanyakan lagu mereka merupakan syair-syair perjuangan dan pemberontakan terhadap “lingkungan”, ketidak adilan, penuh makna politis dan filosofi. Syair-syair mereka cukup memberikan inspirasi bagi para “pejuang bawah tanah”. Ketidakpuasan akan keadaan yang ada, ketimpangan sosial dan keterpurukan bangsa.

 Jika melihat sedikit sejarah yang terjadi di serial revolusi Renaissance, dari Puisi La Divina Commedia karya Dante Alighieri, Lukisan Monalisa karya Leonardo da Vinci, Revolusi Gereja di Saxony (Jerman sekarang) yang dipimpin oleh Martin Luther pada abad 16 yang melahirkan Protestanisme dan terakhir Revolusi pengetahuan dengan dicetuskannya semboyan “cogito ergo sum” – “aku berpikir maka aku ada”.

Sudah cukup memberikan contoh pada “dunia” kotemporer untuk melakukan sebuah perubahan, bagaimana, apa dan siapa yang harus dirubah. Pada akhirnya “mutant” harus mengerti bagaimana manusia hidup. Tidak terlepas dari sisi humanitas yang telah menimbulkan sesuatu yang baru, irasionalitas.   

 Irasionalitas yang ada telah menciptakan sesuatu yang baru dari Freud mempertanyakan rasionalitas subyek modern dan mendestabilisasinya, dengan menteorikan struktur psikis manusia kedalam Ego-Id(nafsu)-Superego. Perlakuan semena-mena dari para “pemain catur” dalam “sistem” yang baru dan menimbulkan apa yang di katakan penguasa dan penderita.

Penguasa, yang sudah tersusun dari sistem hirarki yang ada, penguasa dalam instrumentalis  traktat Westphalia sekalipun menciptakan penderita. Penderita dalam hal ini pembungkaman hingga pembunuhan.

 

Sejarah dalam perkembangan media pun dipenuhi pelik dari berawal hanya penulis berita di Yunani, penggunaan surat kabar pertama kali di rusia oleh Petr I sebagai alat propaganda pemerintahaannya, Johannes Gutenberg(1456) yang memulainya surat kabar di daratan eropa pada abad 17 hingga yellow journalism era Hearst dan Pulitzer di amerika telah memberikan arti dari sebuah media, propaganda.

 Penguasa dengan apa yang dilakukan Petr I di Rusia kala itu, mencontohkan sebuah hegemoni dengan memanfaatkan “keterbatasan” masyarakat pada saat itu. Dari keterbatasan tersebut menimbulkan pengaturan. yang mudah di lakukan oleh “penguasa” terhadap “penderita”. Pengaturanpun bisa diatur oleh, seperti apakah “wacana” yang mau diangkat, seperti apakah peran pengatur dalam “wacana” tersebut.

 Perkembangan mediapun terus berputar dengan beriringnya waktu, hingga media menempati posisi ke empat dalam struktur suatu bangsa(Proxorov, 1994). Tempat yang cukup memberikan arti luas bagi para pekerja media, apakah menjadi pihak A, pihak B atau pihak “abu-abu”. Pembangunan sebuah bangsa atau dalam penghancuran sebuah bangsa sekalipun tidak terlepas dari peran media dan disinilah peran media. Costumer media akan menganggap berita yang disampaikan sesuatu yang objektif dan cenderung meneriam secara taken for granted(Baran, 1998). Dan Media memegang kendali penuh terhadap isi (content)-nya. Inilah yang disebut agenda setting media (McCombs dan Shaw, 1972).

 Sekilas membaca tulisan Dahlan Iskan di Jawapos Dahlan Iskan : RAPBN Krisis, Arena Perjudian Obama” edisi sabtu 21 maret 2009. Tentang penggunaan media Obama yang saat ini lagi beliau gunakan dengan gencar-gencar. Sebetulnya, dari apa yang Dahlan Iskan sebutkan sudah menjadi “materi” yang cocok untuk Indonesia dalam menggunakan sarana media dalam bersuara, baik dikalangan elite maupun tidak elite. Coba kita mengingat kembali, perkembangan Obama yang hanya berawal dari seorang senator dan “bergelut” di arena perebutan kursi presiden. Penggunaan media berupa jarring sosial merupakan langkah efektif yang bisa ditempuh dalam mencari dukungan maupun bersuara.  Seperti apa yang dikatakan oleh Dahlan Iskan, “Obama tahu risiko yang sedang dia hadapi. Karena itu, dia menyiapkan strategi kaki seribu.” Sebuah langkah yang jitu untuk menindak lanjuti serangan-serangan oposisi dalam mencari dukungan.

Mungkin disni penulis ingin lebih “ekstrem” dan berbeda dalam mengutarakan pikirannya. Seandainya, pemilu dapat dilakukan hal yang serupa layaknya Obama menggunakan media. Mungkin biaya yang dapat di hemat jauh lebih bisa ditekan dan disalurkan ke “lorong” yang lain, disalurkan lebih bagi yang membutuhkan.

Dan mungkin tidak hanya “materi” yang dapat di tekan, tapi lebih dari itu. Penggunaan BBM saat berkampanye, biaya penggunaan baleho, spanduk dan semua atribut kampanye pun bisa ditekan. Terinspirasi dari banyaknya demo-demo yang dilakukan, mungkin bukan saatnya lagi kita “frontal” dalam menggunakan sesuatu di sekitar kita. Dalam hal ini penulis bukan berkata bahwa masyarakat kita sudah terlanjur pragmatis dalam berapresiasi. Tapi lebih ke pengingatan kembali, bahwa “lingkungan” ini pun tidak selamanya terus “nrimo” dengan perlakuan kita.

 Seperti “penguasa dan penderita”, saat ego gagal mengatasi keinginan nafsu, bisa disimpulkan bahwa manusia itu sakit/mentally ill. Sementara itu, superego yang merupakan nilai-nilai yang ditanamkan oleh lingkungan ke subyek. Oleh penulis mencoba diartikan secara taken of granted, yaitu kebiasaan-kebiasaan yang ada di lingkungan Indonesia. Dan penulis menarik lebih makro dengan apa yang terjadi, saat para pelaku politik melakukan kampanye, saat pelaku politik mengeluarkan agitasi-agitasinya. Yang banyak terjadi adalah penggunaan “lingkungan” secara frontal dan cenderung tidak mengerti dengan “lingkungan”. Mungkin  ini hanya sedikit subjektifitas dari penulis, apa yang terjadi adalah, pencemaran “lingkungan” dan menurut penulis itu tidak efektif. Dalam hal ini mungkin silakan dipikirkan kembali. Manusia sebagai penguasa dan “lingkuangan” sebagai penderita.

 Dan jika timbul pertanyaan, lalu kemana para penggerak ekonomi dalam “penyaluran” ego para pelaku politik atau kampanye. Dari sudut pandang penulis, pertanyaan itu bukanlah resolve the problem, tapi merupakan avoid the problem. Disini, pembelajaran kesadaran para mencari ilmu pengetahuan sangat di butuhkan. Jika penulis bisa berpendapat, peran para “aktifis” akan kurang terasa jika tidak ada kontribusi langsung dan nyata dimasyarakat. Penggalan kalimat yang cukup idealis. Tapi jika ego tadi sudah merasuk terlalu dalam pada nafsu, dan termakan oleh superego, sama halnya kita semua sudah menjadi sakit/mentally ill.

 Kembali ke dalam tulisan Dahlan Iskan yang berbicara tentang RAPBN Amerika yang sedang diperjuangkan, seperti layaknya perebutan kursi presiden atau pemilu. Bagi penulis, ini merupakan langkah besar yang patut dicontoh bagi seluruh pemimpin bangsa, bagaimana “kiri” berpikir dan bertindak atas kenyataan yang ada. Bukan suatu langkah arogan dan frontal, tapi langsung mengagrah pada target. Perjuangan adalah pelaksaan kata-kata. Mungkin itu yang bisa kita ambil, pelaksanaan kata-kata, sejauh mana kita mau melakukan perubahan, sejauh mana kita peduli akan “lingkungan”, sejauh mana kita mau melihat rumput kita jauh lebih hijau dari rumput tetangga dan sejauh mana kita bangga akan makna merdeka. Suatu perubahan akan sedikit menimbulkan chaos. Mungkin jika kita ambil sedikit contoh, seorang aktitis yang sangat idealis menjadi anggota dewan atau menjadi anggota “imeprialis baru”, akankah keidelisannya bisa dipertahankan, mungkin disini akan menimbulkan chaos, bentrok, pertarungan pada diri sang aktifis tersebut. Apakah menjadi seorang yang ditinggalkan atau menjadi pengikut sejati “imperialis baru” atau bahkan menjadi bermuka dua. Sebuah kisah klasik untuk masa depan (Sheila on 7).

 Sudah jelas, peran “masyarakat” sangat penting dalam keberhasilan suatu “kelompok”. Jika terjadi pembatas yang tebal antara kaum “elite” dan kaum “tidak elite” bisa dikatakan, landasan pokok dari kelompok tersebut adalah “penindasan”. Mungkin ini salah dalam pengunaan kata tapi penulis berpendapat bahwa itu adalah penindasan. Penindasan bisa bermakna luas dan dua arah. Penderita adalah “lingkungan” dan penderita itu pun bisa menjadi penguasa dan sang pelaku penindas lingkungan begitu dan seterusnya. Karena nilai yang sudah ada sebelumnya memaksa kita untuk berbuat “apa kata yang terdahulu” dan mitos-mitos lainnya. Peran aktif “lingkungan” untuk kembali seperti “lingkungan” yang harmoni sangat di butuhkan. Contoh sederhana yang bisa kita ambil, penggunaan bungkus plastik saat ke pasar atau penggunaan media elektonik pada rapat paripurna misalnya. Tapi apa bisa?

 Jadi, yang ingin di tekankan penulis disini adalah media. “Dunia” kotemporer bukanlah dunia yang arogan terhadap lingkungan, bukanlah dunia yang berada di era pencerahan. Tapi merupakan dunia yang seharusnya mengerti dengan “lingkungan”, menjadi bagian dari “lingkungan dan peduli dengan “lingkungan”. Penulis berpendapat,  keterbatasan kita dalam menerima merupakan suatu tantangan kita dalam memberi. Penggunaan media, terutama media elktronik harus lebih di gencarkan, bukan hanya dari tim sang penguasa tapi juga sang penguasa itu sendiri. Apakah sudah bisa memanfaatkan media? Dan apakah sudah mengenai target “lingkungan”? Apakah penderita sudah peduli dan sadar bahwa penderita itu merupakan penguasa? Apakah “tembok” itu sudah tidak membatasi antara penguasa dan penderita? Dan yang terpenting, Who controls the present now?

 

Pertanyaan naïf dari seorang yang jauh.  

 

March 18, 2009

Kamera dan pemilu

kamera dan pemilu

Mungkin santai bentar dari rutinitas yang ada, skripsi terus merenggut waktu dan tenaga, tapi inilah jalan yang harus ditempuh. Pergulatan waktu dan buku membuat semua menjadi kaku dan gatal. Kaku menjadi seorang yang sok pemikir dan gatal menjadi seorang yang kotor.

 

Teringat obrolan pagi buta di facebook chat tentang kamera SLR ma pemilu. Kayaknya dari dua “benda” ini mempunyai kesamaan yang sama walau tak sama. Ini juga masih “analisa” yang belum tentu bisa dipercaya kebenarannya alias subjektif banget.

 

Pertama, dari “muter-muter” di internet terutama facebook, kayaknya semakin banyak orang yang “menggandrungi” fotografi. Bawa-bawa kamera SLR, kalau nggak, ya pose lagi moto, kira-kira begitu kebanyakan foto sekarang yang di “tempel” di foto profil facebook. Kayaknya itu yang lagi trend di Indonesia atau memang dunia dan temen-temen di Indonesia yang kebanyakan tukang foto alias fotografer. Apa memang harganya murah kamera gituan di Indonesia?

 

Kedua, yang sama-sama lagi ngtrend di Indonesia, pemilu. Ni sama-sama ngtrend nih di Indonesia, Mungkin penulis akan sedikit “menceritakan” sedikit apa persamaannya.

 

Sebelumnya, terima kasih telah ada ajaran demos kratos ini telah berada di tengah-tengah kita. Dengan banyaknya “suara” yang boleh “berbicara” dan alur pembagian suara yang terarah di lorongnya, partai politik.

 

Sama halnya dengan sebuah kamera, kamera lama dan masih pake roll film, kayaknya harganya serupa dengan harga satu buah motor mungkin bisa lebih. Roll film peka cahaya dan tidak murah, esensi dari roll film yang peka cahaya yang hanya bisa “diambil” dari kamera lama. Dan jika hasilnya fotonya gagal, harga yang cukup mahal untuk mengganti roll film, muskipun itu hanya satu layer.

 

Tapi kembali lagi ke sang fotografer, apakah dia sudah cukup “umur” dalam fotografi. Mungkin ini yang terjadi di kita, peserta pemilu yang masih belum well educated. Yang ada sekarang, masyarakat kita capek dengan hingar-bingar pemilu. Penikmat pemilu adalah pelaku politik, bukan masyarakat. Yang orang banyak inginkan mungkin “bagaimana saya bisa makan, setidaknya sehari tiga kali” atau hal-hal serupa yang menggambarkan bagaimana saya hari ini bisa “hidup”.

Frued, “manusia tak lebih dari libido maximixer, yang terus berusaha memaksimalkan pemenuhan keingingnan yang notabene berlangsung secara terus menerus”

Lacan, “manusia selalu dalam kondisi kekuarangan, dan hanya hasrat yang mampu memnuhi kekurangan tsb.”

 

Kalo di kamera mungkin, menyiapkan dari batrai, memori card atau roll film sekalipun. Seperti layaknya mau melakukan pemotretan. Semua harus di persiapkan sampai mental pun harus siap. Terkadang mood hilang atau ide tiba-tiba hilang. Niat membuat sebuah suatu karya seni akan tergantung dengan hati kita juga. Mungkin di agama Islam menyebutkan, semua hal semua tergantung dengan niat. Apakah sang fotografer siap dalam mental yang “suci” untuk menciptakan suatu karya seni?

 

Rancangan “peta” pemotretan juga tidak lupa di siapkan, dari baleho-baleho, spanduk, sampai agitasipun disiapkan. Foto yang seperti apa yang diinginkan sang fotografer. Apakah, retro, klasik, modern atau postmodern sekalipun.

 

Hal yang paling menarik, memilih model. Semua cantik, semua ganteng, semua punya badan yang proporsional, semua memenuhi syarat secara fisik tapi apakah kecantikan, kegantengan, kepropolsionalan itu juga berada di dalam diri sang model? Kayaknya untuk dunia fotografi itu semua tidak perlu, yang penting dia bisa secara fisik membawakan siapa dirinya dan seyum saat di foto. Tidak lupa beraksi yang menggairahkan, sehingga para penikmat foto menjadikannya idola favorit. Dan yang lebih gila lagi, saat sudah “jumpa penggemar”, mereka melakukan kegiatan “sosial”, biar para fans atau saingannya bisa lebih mantap dengan idolanya.

 

Terus saat sesi pemotretan selesai, bisa kita lihat. Siapa fotografer, siapa model, dimana lokasi pemotretan dan hasilnya seperti apa.

 

Kamera dan pemilu sama-sama hal yang mahal bagi penulis, sama-sama hal yang membingungkan untuk menentukan angel-angel bagus, sama-sama menampilkan kebagusan atau pun kejelekan sekalipun.

 

 

 

 

 

 

February 12, 2009

Pengantin perempuan (part II)

-“aku masih ga percaya dengan hari ini

-“aku juga ga percaya ma hari ini, aku sayang kamu”, sambil memeluk erat isterinya dan menatap jendala yang terhias rintik air hujan.

Sang pengantin perempuan masih terdiam dan menikmati perasaan nikmat pelukan sang suami walau masih banyak pertanyaan di benaknya tentang pernikahan mereka.

Sebatang rokok sudah menempel di bibir salah satu dari empat pria tadi, dalam hatinya penuh kegalauan, tak menentu dengan hidup yang dia jalani, 35 umur dia tapi hanya lima ribu rupiah dia hasilkan tiap hari di pelabuhan sebagai kuli angkut. Dia mulai meninggalkan warung kopi dan membayar sebagian.

-“mpok, ngutang lagi yah, besok kalo ada rejeki pasti bayar”, ujarnya cepat

-“alah, lagu lama, iya deh bang, ngarti aye”, tanggapnya ringan

-“ayo semua ye, gue balik dulu”, sapa sang pria ini kepada teman-temannya

-“ati-ati di jalan brur”, ucap salah satu pria yang duduk di samping dia.

Keadaan Negara yang membuat pria ini menjalani sebagai kuli bangunan, dulu saat semuanya masih tertata rapi, dia seorang pengusaha batik yang cukup sukses tapi takdir berkata lain dalam sekejap,

-“ini takdir, jawaban atau cobaan”, ucap ringan dalam hati sambil berjalan santai menatap langit. Pulang dengan disambut dingin sang istri, perjalanan rumah tangga yang masih terbilang muda dengan di karunia satu anak perempuan.

Di dapur sang pengantin perempuan ini duduk termenung dan hanya menghela nafas panjang,

-“aku masih mau berkarir loh padahal, aku masih mau nglanjutin sekolah aku loh padahal, aku masih mau menikmati keluar jalan-jalan bersama teman-temanku loh padahal dan aku masih mau tahu, siapa aku sebenarnya loh padahal”

Dengan kemewahan yang ada, keberadaan posisi yang ada dan segala fasilitas yang ada, memang dia cukup senang dengan semuanya. Tapi sang pengantin perempuan tidak tahu siapa dirinya. Dia mencoba kembali mengenal suaminya yang dia kenal dulu sebagai kekasihnya. Dia berjalan kembali ke kamarnya dan tubuh lemas suaminya yang tertidur lelap karena terlalu banyak energi yang terbuang pada hari itu. Kembali membuka selimut dan mencoba kembali menikmati malam pertama dengan tidur.

-“alah, yang beli dikit, yang ngutang banyak”, kapan bisa naik haji, keluh pedagang warung kopi.

-“sabar, besok kalo aye ni ye, jadi presiden, aye bikin semua seneng”, jawab ringan salah satu pria yang masih terduduk di warung kopi.

-“elu, buruh pabrik, elu jadi presiden mau bikin kita semua seneng, sama dengan ga mungkin”, jawab santai pria yang duduk disbelahnya sambil menuang kopi panas ke tatakan gelas.

Mereka sedang berpesta, tertawa kecil di gelitik dengan minuman berakohol bermerk murahan dan saling metertawakan satu sama lain. Pesta alcohol yang berisi orang-orang biasa di rumah kecil daerah perkampungan, tanpa kedudukan ataupun jabatan. Mereka hanya orang biasa yang menikmati malam dengan alcohol dan perempuan bayaran. Lekuk tubuh molek perempuan ini begitu menggoda dan jamahan laki-laki di sekelilingnya tiada berhenti menelusuri tiap lekuk tubuhnya. Dia sudah menikmati apa yang dia kerjakan sekarang. Dia membiarkan jamahan tangan-tangan nakal masuk kedalam setiap sendi kehidupnya.

-“ke kamer yuk neng”, tanya nakal salah satu pria di ruangan itu.

-“tambah dong berarti”, jawab cepat perempuan bayaran itu

-“iya gampang”, ujar cepat sambil menarik tangan perempuan ini menuju kamar.

Malam yang terus bergulir tanpa henti mencoba menghentikan manusia dengan anginnya. Angin dingin, menusuk hingga tulang dan masih melajukan motornya, deruan motor yang melaju kencangpun hampir terjatuh saat ditikungan. Lubang yang masih teerbuka lebar akibat banjir tahun lalu hampir membuat dia tersungkur. Sang kiai ini bergegas mendahului ayam berkokok tanpa memikirkan apa hampir terjadi tadi, masjid tempat biasa dia mengabdi dengan terbuka menyambut dia, persiapan adzan subuh pun di persiapkan. Melihat ke microphone yang siap menyambut adzan terhentak dipikirannya hal-hal yang seronok, terlintas sekejap pikiran aneh yang tiba-tiba merasuki pikirannya. Dengan cepat dia memohon maaf kepada Tuhan.

Sang pengantin perempuan terbangun dari tidurnya dengan kecupan manis sang suami. Belaian sayang di kepala sang pengantin perempuan merasakan betapa sayangnya dia terhadap suaminya. Rasa memiliki yang dia pertanyakan tadi malam tumbuh kembali bersama matahari. Di taman rumah, tetesan embun di daun yang masih basah, begitu jelas membiaskan warna matahari, saat tetesan ini perlahan jatuh dari daun dan terjatuh ketanah. Tanah yang terlihat kering menjadi lembab walaupun hanya sebagian. Molekul air bergerak perlahan dari akar menuju batang. Cacing tanah masih menggeliat mendekati daerah basah dimana tempat tetesan embun itu terjatuh. Dan saat sang suamin meludah, ludah sang suami terjatuh tepat di atas daun yang tadi meneteskan embun tadi.

-“mas, maaf ya semalem aku diem aja”, pelan ucap sang pengantin perempuan.

-“aku ngerti kok, aku juga kemaren capek banget”, sambil mendekati sang istri

-“itu tadi aku udah bikin telor ma the anget”, tambahnya sambil mencium kening sang pengantin perempuan.

-“makasih ya mas”, ucap sang pengantin perempuan cepat.

Dengan setengah malas dia membangkitkan diri dari tempat tidur dan berjalan kearah wastafel. Dengan perlahan dia melihat sikat gigi dan berpikir tentang perasaanya tadi malam. Kecupan manis, belaian lembut, hidangan yang sang suami siapkan, membuatnya berpikir dua kali dengan apa yang dia rasakan tadi malam. Rasa keragu-raguan dia terhadap sang suami. Rasa naif seorang perempuan biasa yang baru menjalani perahu rumah tangga.

(bersambung)

February 11, 2009

Pengantin perempuan (part I)

Pengantin perempuan

Part I

Perasaan ragu, apakah sang calon suami benar-benar pasangan yang dia cari, perasaan itu yang terus hinggap di hatinya. Besok merupakan hal terbesar dalam hidupnya, hari pernikahan. Saat penghulu sudah dihadapan dan tatapan yakin dari mata pengatin pria penuh dengan kepercayaan diri untuk meminang dia. Suatu pesta kebun yang indah, di penuhi dengan orang-orang yang berbaju rapih, hidangan pesta yang mewah, angin berdesir denga lembut meniup setiap helai daun dan rumput yang hijau. Keharmonian dengan alam begitu searsi dengan pesta kebun yang mewah. Tidak ada sedikit pun cela, tidak ada sedikit pun hina. Setiap ucapan selamat datang bak aliran sungai yang deras, alunan musik instrumental yang begitu memikat ingatan, sehingga para undangan dan sang pengantin barupun tidak akan lupa dengan pesta pernikahan yang mewah itu. Tepat pukul empat lewat tiga menit sore hari, cuacapun berubah, matahari semakin meninggalkan tempatnya dan anginpun sedikit lebih dingin.

-“aduh, cepat sekali waktu berjalan”, ucap sang pengantin wanita itu yang sudah mulai melupakan perasaan ragunya. Sang pengatin pria hanya tersenyum kecil dan melanjutkan berdansa dengan sang pengatin perempuan. Dalam alunan nada instrumental dan para undanganpun sudah mulai banyka yang meninggalkan pesta kebun itu. Hanya tersisa apara pengiring lagu, panitia pesta dan orang tua pengatin.

-“maaf pak, jadwal acara telah usai”, ucap salah satu panitia kepada ayah dari pengantin pria.

-“iya, saya tahu!”, hentaknya, dengan sedikit menaikan celananya yang sedikit turun. Segera sang ayah ini pun memberi tahu sang pengatin bahwa waktu sudah menunjukan untuk kembali ke rumah.

-“ayo, sudah, dilanjutkan lagi dansanya di rumah!”, seru sang ayah kepada anaknya.

Dengan bergegas mereka meninggalkan pesta kebun itu. Berpisahlah rombongan orang tua dengan pengantin yang baru itu di pertigaan jalan. Sang pengantin perempuan yang tersenyum dengan senangnya dan sang pengantin pria yang terus membelai kepala sang pengantin perempuan di mobil yang berbeda dengan orang tua. Hanya senyuman dan tawa yang keluar dari mulut mereka. Cinta merekapun telah terjalin lama saat mereka masih duduk di bangku sekolah, cerita-cerita lama yang mulai mereka bahas kembali di mobil dalam perjalanan pulang.

-“masih ingat waktu pertama kali kita ketemu?”, tanya sang pengantin perempuan.

-“iya lah, kamu baru masuk kelas satu, masih malu-malu untuk berkenalan sama orang”, jawab sang pengantin pria.

-“wajar dong, orang baru, pilih-pilih teman boleh dong!” balas sang pengantin perempuan.

Suatu obrolan ringan menghentikan mobil, terlihat kemacetan jalan yang membuat sedikit bertanya, ada apa yang terjadi di depan sana. Sudah sejam mereka didalam mobil yang terjebak dalam kemacetan di sebuah jalan yang tidak cukup lebar untuk mendahului dan pengnedara sepeda motor pun sudah mendahului mereka dari beberapa jam yang lalu.

Jauh didepan sana kerumunan orang melingkari seorang perempuan yang bunuh diri dengan membakar dirinya sendiri, dia tergelak tak berdaya, hitam legam berbau busuk dan kaku. Polisi mulai datang bersama ambulans dari arah yang berlawanan. Empat pria tak dikenal mulai mendekati mayat perempuan ini, dengan wajah yang penuh tanya dengan mencari tahu siapa perempuan yang dengan nekadnya membakar dirinya sendiri. Seorang perwira polisi mulai menenangkan krumunan massa dan menyuruh untuk membubarkan diri dan pulang ke rumah masing-masing. Empat pria tak dikenal tidak beranjak dari tempat dimana mereka pertama kali berdiri. Masih penuh dengan tanya dari ke-empat pria ini.

-“siapa perempan itu?”, salah satu dari mereka bertanya.

Masih di waktu yang sama, sang pengantin baru ini bosan dengan menunggu, bosan dengan senyuman dari kesenangan yang baru mereka rasakan yang berubah menjadi lelah dan kantuk. Sang pengantin pria mencoba menyalakan radio dari mobil sedan mereka untuk melepas sedikit lelah dan bosan yang ada di mereka.

Gantungan kaca yang terletak di kaca tengah mobil terus bergoyang, mengikuti sedikit gerak mobil yang merayap. Sang pengantin pria masih sibuknya mengendari mobil dan sang istri terus sibuk dengan mengeluh, mencari tahu yang ada. Telepon sellular dari para sang pengantin pun mulai berdering, orang tua yang mulai bingung mencari anak-anak mereka yang baru menjalani hidup baru. Tetapi mereka tetap tertahan dalam kemacetan itu.

Di pinggir jalan dengan empat pria tak di kenal masih dengan rasa keingininan tahu yang dalam tentang sosok mayat gosong itu. Dan akhirnya pun para pengantin itu sampai di tempat kejadian dan melewati empat pria tek dikenal ini.

Sosok mayat itu sudah berada di dalam ambulans, kemacetan sudah mulai mereda, cuacapun sudah berbeda menjadi malam yang dingin dan sunyi memasuki kompleks perumahan megah. Di situlah rumah sang pengantin perempuan dan kelurganya tinggal. Dengan dandanan yang mulai luntur akibat gosokan tangan di muka dan rasa lelah yang cukup membikin para pasangan pengantin baru ini langsung membersihkan diri dan tidur. Tengah malam yang cukup gelap, sang pengantin perempuan ini terbangun dan tersadar jika dirinya telah dinikahi oleh seorang teman yang duluny dia bertemu di sekolah, dia menatap sang suami yang tertidur pulas di sampingnya dan kembali muncul perasaan itu,

-“jadi ini pasangan hidup aku?”, lirihnya dalam hati. Air rintik-rintik dari langit mulai berjatuhan di atas kasur mewah sang pengantin perempuan ini berbaring dan melihat ke langit-langit ruangan, merasakan perasaan dalam hatinya dan mengingat pesta kebun yang tidak bisa dia lupakan, sekilas dia teringat kembali dengan kemacetan yang terjadi dari itu. Dan masih bertanya, “apa yang tadi terjadi”. Beranjak dia menuju ruang makan untuk mengambil segelas air putih.

Empat pria tak di kenal ini sedang duduk di sebuah warung kopi, mennggu hujan reda. Tidak ada di antara meraka yang berbicara, hanya diam dan menikmati rokok dengan kopi di depannya. Celetukan sekilas dari pemilik warung kopi memecahkan kesunyian empat pria tak di kenal ini.

-“gila ya bang tadi siang, ibu-ibu mati bakar diri!”, ucap pemilik warung

-“iya, siapa sih sebenernya tu ibu-ibu?”, jawab salah satu dari mereka.

-“katanya sih, tu ibu dari pulau seberang”, jawab pemilik warung dengan singkat.

Masih duduk terdiam di ruang makan dengan meminum air putih, sang pengantin perempuan hanya membayangkan jika dia berada di luar sana, dingin, basah dan tidak ada yang peduli dengan cepatnya dia mengalihkan perhatian pada sesosok pria yang berdiri di dekat pintu ruang makan.

-“ga tidur?”, Tanya suaminya pelan.

-“ga!”, jawabnya pelan.

-“aku masih ga percaya dengan hari ini

(bersambung)

February 10, 2009

Matahari masih di ufuk timur

Matahari masih di ufuk timur

Perasaan yang mulia mendekati kita
Di hati mereka mengharap makanan
Cinta yang membara kepada tanah air
Cinta untuk kuburan sang ayah

-A.C. Phuskin-

Sebelumnya penulis ingin mengenalkan A.C. Phuskin, seorang penulis yang cukup termasyur di tanah airnya, Rusia. Tulisan ini pun hanya bagaian kecil dari pemikiran penulis tentang Indonesia. Manusia ingin berbeda demi pengakuan atas dirinya, begitu pula sebuah bangsa. Kita masih punya harga diri dan kita tidak bisa terpatok pada situasi yang ada dan dominasi-hegemoni. Kita merupakan bangsa yang kaya, besar tapi kenapa hingga saat ini kita masih terpuruk dengan adanya dominasi-hegemoni asing. Meraung-raung hingga kelaparan di rumah kita sendiri. Sudah cukup bangsa kita menjadi Negara yang pragmatis, menjadi pembeli pertama, bangga akan hasil karya asing dan terbuai akan dunia utopia yang berstatus metropolitan. Ini merupakan kisah klasik. ___________________________________________________________
Populi Vacante, kekosongan masyarakat.
Sejarah kita sendirilah yang menghancurkan kita, dan kita terus percaya akan mitos-mitos lama yang disebar oleh para “pemikir-pemikir” gadungan era 32 tahun “penjajahan”. Era keterpurukan masih akan terus berlanjut hingga suatu era “pencerahan” datang.
Setiap tahun bangsa kita mengahasilkan manusia-manusia berpengetahuan luas, tapi hanya sedikit menjadi yang menjadi “dirinya sendiri”. Imperialisme kolonialisme belanda mewariskan sekolah-sekolah etisi yang yang ilmu pengetahuannya adalah belas kasih masyarakat terdidik kepada golongan masyarakat tidak terdidik. Wadah mental mau menang sendiri dan kekasaran tidak peduli sebagai lahan subur penindasan.
Permainan sulap yang hebat, masuk dalam lembah gelap imperialis baru dan hilanglah jati dirinya. Bangsa yang besar, bangsa yang tidak pernah menghargai hasil jerih payah seseorang, berdalil kita belum bisa melakukan itu karena keterbatasan kita. Penulis mungkin lebih menikmati semua ini dari kejauhan, dan penulis akan terus menikmati ini.
Kemampuan berpikir kita telah di batasi oleh golongan-golongan partikelir yang mengklaim dirinya benar. Pembodohan massal.
Buku suci perubahan adalah logika social yang terbentuk dari bukan hanya satu, dua atau tiga kelas sosial tapi juga semesta kesadaran yang mengendap-mendasari relasi sosial antar kelas dalam masyarakat. Tapi sekarang apakah masyarakat kita mau bergerak? apakah masyarakat kita mau bersatu?
Dan saat ini, perkembangan budaya barat, menjadi pertanyaan bagi penulis, apakah itu merupakan simbiosis atau konflik kepentingan. Sudah tentu, perkembangan pasar capital dengan dalil demokrasi menciptakan lahan pasar yang menuntungkan. Tapi disisi lain, ketergantungan inilah yang membuat masyarakat kita menjadi budak. Tergesernya rasa cinta terhadap tanah air atau mungkin merasa malu dengan tanah air menjadi masyarakat madani bangsa lain. Hal yang memilukan dan ironi.

Selama matahari masih di ufuk timur, namamu didarahku

Semua pesimis tak mau teleskopis
Tak mau tau dekadensi moral mengikis
Konyol karena menginggalkan kode etis
Hukum pun kini tiada yang logis
Khasah masa lampau telah banyak terenggut
Di ikuti interpretasi risalah yang kusut
Dia yang lemah yang kan bertekukuk lutut
Hukum rimba lah yang akan dianut

December 18, 2008

Saya orang yang sok tahu

Saya orang yang sok tahu

Bukan saya orang yang serba tahu
Tenang, saya orang yang sok tahu
Dari dulu sekolah, saya tahu
Saya tahu, saya makin tak tahu

Itu, waktu
Bukan masalah tahu atau tidak tahu
Tapi itu, waktu
Terus dan terus berlaju

Sebuah kata ingin keluar dari seorang anak
Dengan bergegas dia kembali diam
Entah apa yang dipikrannya
Tapi hanya ketakutan yang ada

Ini, ini, ini, terus dan terus disuapi oleh sesuatu
Yang saya sendiri tidak tahu, apa itu
Dia hanya membuka mulut dan tiba-tiba badannya pun hancur
Kenapa, kenapa, kenapa, apa itu
“saya menjadi budak dari sesuatu itu”
“ini saya, mayat hidup”
Seonggok daging yang bisa berjalan tanpa menggunkan energi
“wah, ini penemuan terbaru, bukan begitu”
Saya tidak tahu, apa ini penemuan terbaru

Coba kamu tanya kepada mereka,
Apa ini, badan saya hancur,
Entah apa yang telah saya tanam kedalam badan saya
“memang siapa mereka?”
“ya siapa tahu bisa membantu saya yang tidak tahu”
Saya bukan seorang yang buta, saya bukan seorang yang tuli dan saya bukan seorang bisu
Tapi kenapa saya tidak tahu

Terus berjalan, menikmati simfoni yang indah
Wah, suatu kenikmatan, indah, indah, indah
Apa ini opium?
Apa ini heroin?
Apa ini ganja?
Saya tidak tahu,
Tapi kata mereka ini kenikmatan
Mereka tertawa tadi, ini sesuatu yang indah
Saya tidak mau, saya tidak mau, saya mau badan saya sehat
Sehat, bugar bisa tertawa saya
Siapa mereka, saya tidak tahu
Kamu sekolah, sekolah biar tahu
Iya, saya sekolah biar tahu, saya semakin tidak tahu
Iya saya tahu mereka, tapi saya tidak tahu kenapa mereka

Boleh saya pergi,
“kamu mau kemana?”
Dunia kamu satu, kamu hanya bisa disini
“wah, saya juga punya dunia”
Ini dunia saya, dunia yang saya tahu
“kamu sok tahu”
Memang
Saya orang yang sok tahu
Kamu tahu saya sok tahu
Kamu tidak tahu saya orang yang tahu menjadi orang tidak tahu
Dari dulu saya tahu kamu tidak tahu
Saya orang yang sok tahu