Media : taken for granted
Who controls the past now controls the future
Who controls the present now controls the past
Who controls the past now controls the future
Who controls the present now?
(rage against the machine)
Sebelumnya penulis ingin mengenalkan rage against the machine, nama itu merupakan nama sebuah grup musik di amerika yang mengambil inspirasi dari zapasttista di beberapa lagunya.
Dari “pergerakan” hegemoni yang di coba dilakukan oleh rage against the machine (RATM), mungkin sudah mengenai kaum muda yang pada khususnya dikalangan yang memahami tentang politik, filosofi dan ketidakadilan.
“Taktik” dalam penggunaan metode ini sudah sangatlah jelas, untuk siapa karya mereka ditujukan, untuk apa karya mereka ditujukan dan bagaimana karya mereka ditujukan.
Isi dari kebanyakan lagu mereka merupakan syair-syair perjuangan dan pemberontakan terhadap “lingkungan”, ketidak adilan, penuh makna politis dan filosofi. Syair-syair mereka cukup memberikan inspirasi bagi para “pejuang bawah tanah”. Ketidakpuasan akan keadaan yang ada, ketimpangan sosial dan keterpurukan bangsa.
Jika melihat sedikit sejarah yang terjadi di serial revolusi Renaissance, dari Puisi La Divina Commedia karya Dante Alighieri, Lukisan Monalisa karya Leonardo da Vinci, Revolusi Gereja di Saxony (Jerman sekarang) yang dipimpin oleh Martin Luther pada abad 16 yang melahirkan Protestanisme dan terakhir Revolusi pengetahuan dengan dicetuskannya semboyan “cogito ergo sum” – “aku berpikir maka aku ada”.
Sudah cukup memberikan contoh pada “dunia” kotemporer untuk melakukan sebuah perubahan, bagaimana, apa dan siapa yang harus dirubah. Pada akhirnya “mutant” harus mengerti bagaimana manusia hidup. Tidak terlepas dari sisi humanitas yang telah menimbulkan sesuatu yang baru, irasionalitas.
Irasionalitas yang ada telah menciptakan sesuatu yang baru dari Freud mempertanyakan rasionalitas subyek modern dan mendestabilisasinya, dengan menteorikan struktur psikis manusia kedalam Ego-Id(nafsu)-Superego. Perlakuan semena-mena dari para “pemain catur” dalam “sistem” yang baru dan menimbulkan apa yang di katakan penguasa dan penderita.
Penguasa, yang sudah tersusun dari sistem hirarki yang ada, penguasa dalam instrumentalis traktat Westphalia sekalipun menciptakan penderita. Penderita dalam hal ini pembungkaman hingga pembunuhan.
Sejarah dalam perkembangan media pun dipenuhi pelik dari berawal hanya penulis berita di Yunani, penggunaan surat kabar pertama kali di rusia oleh Petr I sebagai alat propaganda pemerintahaannya, Johannes Gutenberg(1456) yang memulainya surat kabar di daratan eropa pada abad 17 hingga yellow journalism era Hearst dan Pulitzer di amerika telah memberikan arti dari sebuah media, propaganda.
Penguasa dengan apa yang dilakukan Petr I di Rusia kala itu, mencontohkan sebuah hegemoni dengan memanfaatkan “keterbatasan” masyarakat pada saat itu. Dari keterbatasan tersebut menimbulkan pengaturan. yang mudah di lakukan oleh “penguasa” terhadap “penderita”. Pengaturanpun bisa diatur oleh, seperti apakah “wacana” yang mau diangkat, seperti apakah peran pengatur dalam “wacana” tersebut.
Perkembangan mediapun terus berputar dengan beriringnya waktu, hingga media menempati posisi ke empat dalam struktur suatu bangsa(Proxorov, 1994). Tempat yang cukup memberikan arti luas bagi para pekerja media, apakah menjadi pihak A, pihak B atau pihak “abu-abu”. Pembangunan sebuah bangsa atau dalam penghancuran sebuah bangsa sekalipun tidak terlepas dari peran media dan disinilah peran media. Costumer media akan menganggap berita yang disampaikan sesuatu yang objektif dan cenderung meneriam secara taken for granted(Baran, 1998). Dan Media memegang kendali penuh terhadap isi (content)-nya. Inilah yang disebut agenda setting media (McCombs dan Shaw, 1972).
Sekilas membaca tulisan Dahlan Iskan di Jawapos “Dahlan Iskan : RAPBN Krisis, Arena Perjudian Obama” edisi sabtu 21 maret 2009. Tentang penggunaan media Obama yang saat ini lagi beliau gunakan dengan gencar-gencar. Sebetulnya, dari apa yang Dahlan Iskan sebutkan sudah menjadi “materi” yang cocok untuk Indonesia dalam menggunakan sarana media dalam bersuara, baik dikalangan elite maupun tidak elite. Coba kita mengingat kembali, perkembangan Obama yang hanya berawal dari seorang senator dan “bergelut” di arena perebutan kursi presiden. Penggunaan media berupa jarring sosial merupakan langkah efektif yang bisa ditempuh dalam mencari dukungan maupun bersuara. Seperti apa yang dikatakan oleh Dahlan Iskan, “Obama tahu risiko yang sedang dia hadapi. Karena itu, dia menyiapkan strategi kaki seribu.” Sebuah langkah yang jitu untuk menindak lanjuti serangan-serangan oposisi dalam mencari dukungan.
Mungkin disni penulis ingin lebih “ekstrem” dan berbeda dalam mengutarakan pikirannya. Seandainya, pemilu dapat dilakukan hal yang serupa layaknya Obama menggunakan media. Mungkin biaya yang dapat di hemat jauh lebih bisa ditekan dan disalurkan ke “lorong” yang lain, disalurkan lebih bagi yang membutuhkan.
Dan mungkin tidak hanya “materi” yang dapat di tekan, tapi lebih dari itu. Penggunaan BBM saat berkampanye, biaya penggunaan baleho, spanduk dan semua atribut kampanye pun bisa ditekan. Terinspirasi dari banyaknya demo-demo yang dilakukan, mungkin bukan saatnya lagi kita “frontal” dalam menggunakan sesuatu di sekitar kita. Dalam hal ini penulis bukan berkata bahwa masyarakat kita sudah terlanjur pragmatis dalam berapresiasi. Tapi lebih ke pengingatan kembali, bahwa “lingkungan” ini pun tidak selamanya terus “nrimo” dengan perlakuan kita.
Seperti “penguasa dan penderita”, saat ego gagal mengatasi keinginan nafsu, bisa disimpulkan bahwa manusia itu sakit/mentally ill. Sementara itu, superego yang merupakan nilai-nilai yang ditanamkan oleh lingkungan ke subyek. Oleh penulis mencoba diartikan secara taken of granted, yaitu kebiasaan-kebiasaan yang ada di lingkungan Indonesia. Dan penulis menarik lebih makro dengan apa yang terjadi, saat para pelaku politik melakukan kampanye, saat pelaku politik mengeluarkan agitasi-agitasinya. Yang banyak terjadi adalah penggunaan “lingkungan” secara frontal dan cenderung tidak mengerti dengan “lingkungan”. Mungkin ini hanya sedikit subjektifitas dari penulis, apa yang terjadi adalah, pencemaran “lingkungan” dan menurut penulis itu tidak efektif. Dalam hal ini mungkin silakan dipikirkan kembali. Manusia sebagai penguasa dan “lingkuangan” sebagai penderita.
Dan jika timbul pertanyaan, lalu kemana para penggerak ekonomi dalam “penyaluran” ego para pelaku politik atau kampanye. Dari sudut pandang penulis, pertanyaan itu bukanlah resolve the problem, tapi merupakan avoid the problem. Disini, pembelajaran kesadaran para mencari ilmu pengetahuan sangat di butuhkan. Jika penulis bisa berpendapat, peran para “aktifis” akan kurang terasa jika tidak ada kontribusi langsung dan nyata dimasyarakat. Penggalan kalimat yang cukup idealis. Tapi jika ego tadi sudah merasuk terlalu dalam pada nafsu, dan termakan oleh superego, sama halnya kita semua sudah menjadi sakit/mentally ill.
Kembali ke dalam tulisan Dahlan Iskan yang berbicara tentang RAPBN Amerika yang sedang diperjuangkan, seperti layaknya perebutan kursi presiden atau pemilu. Bagi penulis, ini merupakan langkah besar yang patut dicontoh bagi seluruh pemimpin bangsa, bagaimana “kiri” berpikir dan bertindak atas kenyataan yang ada. Bukan suatu langkah arogan dan frontal, tapi langsung mengagrah pada target. Perjuangan adalah pelaksaan kata-kata. Mungkin itu yang bisa kita ambil, pelaksanaan kata-kata, sejauh mana kita mau melakukan perubahan, sejauh mana kita peduli akan “lingkungan”, sejauh mana kita mau melihat rumput kita jauh lebih hijau dari rumput tetangga dan sejauh mana kita bangga akan makna merdeka. Suatu perubahan akan sedikit menimbulkan chaos. Mungkin jika kita ambil sedikit contoh, seorang aktitis yang sangat idealis menjadi anggota dewan atau menjadi anggota “imeprialis baru”, akankah keidelisannya bisa dipertahankan, mungkin disini akan menimbulkan chaos, bentrok, pertarungan pada diri sang aktifis tersebut. Apakah menjadi seorang yang ditinggalkan atau menjadi pengikut sejati “imperialis baru” atau bahkan menjadi bermuka dua. Sebuah kisah klasik untuk masa depan (Sheila on 7).
Sudah jelas, peran “masyarakat” sangat penting dalam keberhasilan suatu “kelompok”. Jika terjadi pembatas yang tebal antara kaum “elite” dan kaum “tidak elite” bisa dikatakan, landasan pokok dari kelompok tersebut adalah “penindasan”. Mungkin ini salah dalam pengunaan kata tapi penulis berpendapat bahwa itu adalah penindasan. Penindasan bisa bermakna luas dan dua arah. Penderita adalah “lingkungan” dan penderita itu pun bisa menjadi penguasa dan sang pelaku penindas lingkungan begitu dan seterusnya. Karena nilai yang sudah ada sebelumnya memaksa kita untuk berbuat “apa kata yang terdahulu” dan mitos-mitos lainnya. Peran aktif “lingkungan” untuk kembali seperti “lingkungan” yang harmoni sangat di butuhkan. Contoh sederhana yang bisa kita ambil, penggunaan bungkus plastik saat ke pasar atau penggunaan media elektonik pada rapat paripurna misalnya. Tapi apa bisa?
Jadi, yang ingin di tekankan penulis disini adalah media. “Dunia” kotemporer bukanlah dunia yang arogan terhadap lingkungan, bukanlah dunia yang berada di era pencerahan. Tapi merupakan dunia yang seharusnya mengerti dengan “lingkungan”, menjadi bagian dari “lingkungan dan peduli dengan “lingkungan”. Penulis berpendapat, keterbatasan kita dalam menerima merupakan suatu tantangan kita dalam memberi. Penggunaan media, terutama media elktronik harus lebih di gencarkan, bukan hanya dari tim sang penguasa tapi juga sang penguasa itu sendiri. Apakah sudah bisa memanfaatkan media? Dan apakah sudah mengenai target “lingkungan”? Apakah penderita sudah peduli dan sadar bahwa penderita itu merupakan penguasa? Apakah “tembok” itu sudah tidak membatasi antara penguasa dan penderita? Dan yang terpenting, Who controls the present now?
Pertanyaan naïf dari seorang yang jauh.