Jalanan pada malam itu terasa dingin, entah karena suhu normal pada saat itu atau memang karena hujan yang cukup deras pada sore hari. Mobil dan lalu lintas jalan yang lalu lalang tidak pernah berhenti beraktifitas, mungkin ini sedikit dari denyut nadi kehidupan kota pada malam hari. Malam yang cerah membuat bunga jalan merekah layaknya bunga tulip yang sedang berkembang pada musimnya. Hembusan angin di malam itu tidak membuat bunga yang merekah itu tergoyang dan jatuh atau mungkin bertambah hidup ditemani sebotol bir dan alunan musik malam.
Tubuhnya tidak lagi seelok yang dulu, lekuk tubuhnya tidak lagi menjadi idaman sebagian pria tapi dari tatapan matanya bisa terbaca, MELACUR bukan tujuan dan jalan yang ingin aku jalani. Dia mungkin telah menjadi seorang ibu, dia mungkin telah menjadi seorang anak yang menanggung ekonomi keluarga, klise mungkin tapi inilah yang terjadi.
MELACUR bukan tujuan dan jalan yang ingin dia jalani, tapi kenyataan berkata lain. Ini bukan persoalan gaji atau upah yang di dapatkan, tapi ini realita yang harus dihadapi. Banyak jalan menuju Roma dan banyak jalan pula cara untuk mengarungi realita hidup.
Dahulu, dia dilahirkan seputih kertas. Polos, tidak bernoda. Namun pelan-pelan berubah menjadi racun dan rasa sesal, kenapa aku harus dilahirkan untuk menjadi PELACUR? Tatapan matanya bisa terbaca, aku bukan untuk ini, aku mempunyai cita-cita. Mungkin menjadi ibu dua anak dengan suami yang bisa membimbingnya mengarungi kehidupan. Mungkin menjadi guru yang menjadi tauladan murid-muridnya atau mungkin dan kemungkinan yang lain.
Tatapan matanya berkata, aku tersiksa, aku ingin pulang dan aku malu. Malu, mungkin kata yang tepat untuk semua perasaan dia sekarang. Dia seorang perempuan biasa yang HARUS melakukan ini, entah kebutuhan atau keterpaksaan dan MALU suatu penyakit yang dia harus sembuhkan tapi hati kecil dia berkata lain.
Dia mungkin mengetahui keberadaan R.A. Kartini, tokoh perempuan yang populer di negeri ini atau dia paham betul tentang “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Mencoba menghibur diri dengan bersabar dengan berkata “apakah aku harus meringkuk ketakutan untuk menanggung beban ini?”
Bandung, 3 maret 2010
Menurut gw…..semua org di dunia ini ingin dilahirkan sempurna menjadi manusia, tak ada yg minta untuk jd pelacur, penjahat ataupun apa pun yang jelek. Tapi ketika cara untuk berbuat baik tak sanggup untuk didapati jalan ini merupakan sebagian dari alternatif yg mereka pilih. Banyak faktor – faktor dibaliknya yg mungkin hanya diri mereka sendri yg tau.
betul,,, setiap orang tidak akan tau, akhir dari perjalanan kehidupannya akan seperti apa, ada yang bermula bagus tapi berakhir dengan mengenaskan, contoh simple, Antasari Azhar. Ada juga yang berawal buruk berakhir bagus, contoh simple, Alm. Gito Rollis,, so, orang tidak akan pernah tau dan tidak akan berubah jika bukan dia yang merubahnya sendiri,,
bgitulah hidup yg keras ini…
manusia harus melakukan pilihan yg tidak dia ingin jalani..
salut gw buat orang2 kek gt…
Mereka melakukannya bukan karena terpaksa. Banyak perempuan2 lain yang hidup lebih rendah taraf ekonominya dibanding para pelacur, namun mereka tetap <emfight untuk mengais penghidupan dengan cara2 yang Allah halalkan.
Salam, bung Darwadi. Lamo tak jumpo kita ni.
Mereka melakukannya bukan karena terpaksa. Banyak perempuan2 lain yang hidup lebih rendah taraf ekonominya dibanding para pelacur, namun mereka tetap fight untuk mengais penghidupan dengan cara2 yang Allah halalkan.
Salam, bung Darwadi. Lamo tak jumpo kita ni.
setuju saya,,
salam juga,,